BINUS Business School

Ambidextrous Leadership Jadi Kunci Kepemimpinan Adaptif Era Disrupsi

Tantangan industri di era disrupsi tak lagi bersifat linear. Organisasi dihadapkan pada inovasi teknologi, ketidakpastian makroekonomi, dinamika geopolitik, hingga agenda ESG (lingkungan, sosial, dan tata kelola). Situasi ini menciptakan lingkungan yang mengharuskan pemimpin untuk mengambil keputusan dalam waktu cepat, dan sering kali dengan informasi tidak lengkap.

Pada saat bersamaan, pemimpin juga dituntut untuk mampu menjaga stabilitas organisasi. Namun, pendekatan kepemimpinan tradisional yang linear dinilai kurang relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Ambidextrous leadership hadir sebagai solusi strategis untuk menyeimbangkan inovasi dan efisiensi.

Ambidextrous Leadership, Mengelola Dua Logika yang Bertentangan

Ambidextrous leadership adalah pendekatan kepemimpinan dengan fokus menyeimbangkan dua logika yang tampak saling berlawanan, yakni eksploitasi dan eksplorasi. Eksploitasi merujuk pada optimalisasi bisnis saat ini, seperti efisiensi operasional dan minimalisasi risiko dengan, dengan orientasi kinerja jangka pendek. Sementara itu, eksplorasi menekankan pertumbuhan di masa depan (jangka panjang) melalui adaptasi, pembelajaran, dan inovasi.

Dalam praktiknya di industri bisnis, eksploitasi dan eksplorasi sering kali saling bertabrakan. Kepemimpinan yang terlalu stabil dapat menjadi usang, dan pendekatan yang terlalu inovatif dapat menghilangkan konsistensi serta kepercayaan pasar.

Kontradiksi dalam kepemimpinan ini terasa sangat nyata di industri asuransi. Di satu sisi, sektor asuransi sangat teregulasi, sensitif terhadap risiko (risk-sensitive), dan memiliki tata kelola klaim yang ketat. Di sisi lain, ada juga tekanan digitalisasi serta tuntutan konsumen akan layanan yang semakin cepat dan personal. 

Dari Teori ke Praktik, Upaya Organisasi Terapkan Pendekatan Ambidextrous

Penerapan ambidextrous leadership dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Salah satunya adalah structural ambidexterity, yang memisahkan unit bisnis inti dan unit inovasi dengan tujuan dan key performance indicators (KPI) berbeda, tapi tetap terkoordinasi dengan di tingkat top-level management.

Selain itu, ada pula contextual ambidexterity, yaitu ketika organisasi mengembangkan dua pola pikir. Caranya adalah melalui penerapan sistem, budaya, dan insentif yang memungkinkan tim untuk berpindah peran antara menjalankan operasional dan berinovasi. 

Terakhir, ada leadership-based ambidexterity yang fokus pada kemampuan pemimpin dalam menyesuaikan prioritas. Melalui pendekatan ini, pemimpin dituntut untuk menyeimbangkan pencapaian jangka pendek dengan strategi jangka panjang. 

Apa pun jenis pendekatan yang dipilih, keberhasilan implementasi sama-sama dipengaruhi oleh pengarahan jelas dan strategis dari top-level management, KPI terukur dari segi kinerja dan inovasi, budaya belajar yang berkelanjutan, serta tata kelola risiko yang kuat.

Belajar dari Ping An Insurance, Benchmark Kepemimpinan Ambidextrous dalam Aksi

Salah satu contoh nyata keberhasilan ambidextrous leadership dapat dilihat pada Ping An Insurance, perusahaan asuransi asal Tiongkok. Mereka mampu mempertahankan kekuatan inti bisnis seperti asuransi jiwa, kesehatan, dan properti dengan disiplin risiko yang tinggi, sambil berinvestasi pada big data, cloud, artificial intelligence (AI), dan platform-platform digital. 

Ping An Insurance menjalankan hal tersebut dengan menjadikan asuransi sebagai “jangkar” dan teknologi sebagai pendukungnya. Mereka tetap mematuhi regulasi yang berlaku di industri asuransi dan melakukan manajemen risiko, sekaligus menghadirkan inovasi InsurTech. Contohnya seperti sistem deteksi fraud berbasis AI untuk mencegah kerugian klaim asuransi.

Hasilnya, perusahaan dengan total aset mencapai USD1,8 triliun ini mampu meningkatkan efisiensi, memberikan pengalaman lebih baik kepada pelanggan, serta menciptakan sumber pertumbuhan baru di luar bisnis asuransi tradisional.

Kupas Tuntas Ambidextrous Leadership di CEO Speaks BINUS Business School

Relevansi konsep ambidextrous leadership menjadi topik utama dalam edisi terbaru CEO Speaks BINUS Business School, yang menghadirkan Direktur Utama PT Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, sebagai pembicara. Acara ini diadakan pada 29 Januari 2025 di BINUS @Senayan, JWC Campus, serta disiarkan real-time secara online melalui Zoom.

Pada sesi tersebut, Muhammad Awaluddin membagikan pengalaman dan wawasan tentang dampak nyata kepemimpinan ambidextrous di organisasi yang pernah beliau pimpin. Sebelum menjadi bagian dari PT Jasa Raharja, beliau juga pernah menjabat sebagai Deputy CEO di PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk., President Commissioner di PT PELNI (Persero), serta President Director di PT Angkasa Pura II. 

Diskusi tersebut tidak hanya memberikan gambaran tentang penerapan ambidextrous leadership di industri kerja nyata. Materi yang disampaikan juga dapat menjadi refleksi strategis bagi para partisipan CEO Speaks BINUS Business School dalam mengelola paradoks stabilitas dan inovasi secara seimbang.

Di tengah era digital dan ketidakpastian global, pemimpin organisasi dituntut untuk menjaga stabilitas sekaligus aktif menciptakan inovasi bisnis. Ambidextrous leadership hadir sebagai jawaban untuk menyeimbangkan keduanya secara strategis. 

Melalui program CEO Speaks BINUS Business School bersama Direktur Utama PT Jasa Raharja, gagasan tersebut mendapatkan ruang untuk lebih dipahami dan dituangkan ke dalam aksi nyata. Harapannya, generasi pemimpin masa depan mampu bertahan di era disrupsi dan menciptakan pertumbuhan industri yang berkelanjutan.

Whatsapp