Sulap Gerbong Tua, Binusian Tembus 5 Besar KAI Ideation Challenge
Berawal dari rasa iseng dan tenggat waktu yang sangat sempit, sekelompok mahasiswa lintas kampus berhasil melangkah jauh di ajang nasional bergengsi, yaitu KAI Ideation Challenge. Kelompok Gerbong Citra Global (GCG) dari program Master of Management (MM) Innovation & Entrepreneurship BINUS @Alam Sutera membuktikan bahwa ide yang relevan, tim yang solid, dan keberanian mencoba bisa membawa mereka ke posisi 5 besar dalam babak final. Semuanya bermuara dari semangat belajar dan praktik nyata ala BINUS Business School.
Mengenal KAI Ideation Challenge
KAI Ideation Challenge merupakan kompetisi business case hasil kolaborasi antara PT Kereta Api Indonesia dan Marketeers. Ajang ini membuka ruang bagi masyarakat Indonesia, termasuk diaspora di luar negeri, untuk menyumbangkan ide inovatif demi kemajuan industri perkeretaapian.
Peserta diwajibkan membentuk tim beranggotakan 2-8 orang. Setiap tim harus menyusun proposal komprehensif berisi latar belakang masalah, gagasan inovasi, serta alasan relevansi ide tersebut bagi PT KAI. Dari ratusan proposal nasional, hanya 10 tim terbaik yang lolos ke tahap berikutnya, dan GCG dari BINUS Business School adalah salah satunya.
Lika-liku Terbentuknya GCG
Gerbong Citra Global lahir dari situasi yang jauh dari kata ideal. Daniel Hadi Putra, mahasiswa S2 MM Innovation & Entrepreneurship BINUS Business School, pertama kali melihat informasi lomba ini lewat media sosial Marketeers. Pada saat itu, ia hanya punya waktu sekitar 10 hari hingga pendaftaran ditutup.
Di tengah persiapan sidang tesis, Daniel mengajak Candra Alifian Taligar, rekan satu tim tesisnya. Mereka lalu menghubungi Shafira Suryawardani, yang dikenal aktif sebagai mentor lomba bisnis. Dari situ, tim GCG semakin berkembang dengan menggandeng Muhammad Fakhrudin Zukhri dari ITS dan Satriyo Imam Arifin Wahono dari UNESA.
Meski berasal dari kampus berbeda, mereka sama-sama berani mencoba, bahkan dengan peluang keberhasilan yang kecil, serta siap bekerja dengan gesit.
Nama GCG sendiri terinspirasi dari istilah Good Corporate Governance, tapi dengan makna yang lebih luas. Bagi mereka, gerbong adalah simbol pergerakan, dan citra global mewakili mimpi mereka untuk mengharumkan nama Indonesia ke level internasional tanpa meninggalkan kearifan lokal. Konsep inilah yang kemudian menjadi benang merah seluruh ide mereka.

Dari Observasi Lapangan ke Ide Nyata
Tim GCG memulai perjalanan mereka dari observasi sederhana. Suatu hari, Daniel sempat datang langsung ke Stasiun Gambir untuk melihat potensi masalah dan peluang. Pada kunjungan tersebut, ia melihat banyaknya gerbong kereta lama yang terbengkalai begitu saja. Dari sana, ia jadi bertanya-tanya, “Kenapa tidak dimaksimalkan?”
Daniel pun menyampaikan hasil observasi tersebut, dan berbekal latar belakang arsitektur yang dimiliki Candra, ide pun berkembang cepat. Sehingga, lahirlah ide optimalisasi gerbong bekas menjadi ruang bernilai ekonomi dengan pendekatan local heart, global branding.
GCG menerapkan konsep penginapan berukuran compact di dalam gerbong kereta yang terinspirasi dari konsep hotel kapsul modern. Tata letak ruangannya efisien, tapi interiornya tetap nyaman dan luas. Desain bagian dalamnya pun mengangkat unsur budaya lokal seperti motif wayang, sehingga tamu bisa merasakan pengalaman khas Indonesia.
Untuk melengkapi pengalaman menginap tersebut, GCG menghadirkan konsep fine casual dining. Bukan restoran mewah, melainkan versi lebih terjangkau yang menyajikan kuliner tradisional seperti lemper, getuk, dan roti gambang dengan kemasan modern. Setiap menu dilengkapi QR code berisi cerita sejarah makanan tersebut.
Lalu, memahami populernya tren WFC (work from cafe), GCG juga merancang ruangan co-working space berbasis gerbong sebagai area kolaboratif anak muda. Co-working space ini dilengkapi dengan ruang privat dan area diskusi terbuka.

Lembur, Prototype, dan VR dalam Sehari
Tantangan terbesar tim GCG adalah waktu dan data yang terbatas. Dari pengumuman lolos Top 10 hingga pitching semifinal, mereka hanya punya waktu sekitar satu hari untuk menyiapkan pitch deck.
Candra bahkan harus membuat tiga prototype lengkap dalam waktu kurang dari 24 jam, mulai dari modeling, rendering, hingga visual kerja. Sebab, mereka harus menampilkan prototype dalam bentuk VR agar para juri bisa membayangkan pengalaman ruang secara nyata. Alhasil, semua anggota pun harus lembur. Ada yang fokus ke perencanaan keuangan, ada yang menyusun narasi bisnis, dan ada yang mengatur presentasi.
Namun, selama proses tersebut, tim GCG merasa bahwa ilmu yang didapat dari ruang kelas BINUS Business School sangatlah membantu. Terutama, untuk penerapan feasibility, sustainability, dan kehati-hatian finansial.
Berkat perjuangan keras, GCG akhirnya melaju hingga babak final yang digelar langsung di kantor pusat KAI di kawasan Juanda. Dari ratusan tim nasional, mereka berhasil menembus Top 5 finalis, dan ini merupakan sebuah pencapaian besar untuk tim yang awalnya hanya coba-coba. Meski tidak memenangkan gelar juara utama, mereka tetap pulang membawa kenangan indah.