BINUS Business School

Serunya Immersion Program ke Wuhan Lima Hari Mahasiswa BM BINUS @Bekas

Bagaimana rasanya benar-benar hidup sebagai mahasiswa internasional di luar negeri? Jawabannya bisa kamu rasakan dengan mengikuti immersion program, seperti yang telah dilakukan oleh 14 mahasiswa BINUS BUSINESS SCHOOL jurusan Business Management (BM) BINUS @Bekasi di awal tahun ini.  Selama lima hari (26-30 Januari 2026), mereka tidak sekadar jalan-jalan, tapi menyelami ritme belajar, budaya, dan kehidupan kampus di kota Wuhan, China yang tenang, historis, sekaligus penuh energi muda.

Awal Perjalanan dari Kelas ke Dunia Nyata

Sejak hari pertama, suasananya sudah terasa berbeda. Para mahasiswa menerima admission letter resmi dari Wuhan University dan surat referensi dari Kementerian Pendidikan Tiongkok untuk pengurusan visa pelajar. Dokumen itu jadi simbol bahwa mereka benar-benar diterima sebagai bagian dari komunitas akademik yang prestisius di sana. Apalagi, mengingat Wuhan University menduduki peringkat Top 186 di dunia dalam QS World University Rankings.

Ibu Bryna Meivitawanli, dosen pendamping dari Business Management, melihat momen ini sebagai lompatan penting. “Mereka mendapatkan kesempatan untuk mengalami kehidupan sebagai international students,” tuturnya. 

Lima hari ke depannya pun diisi dengan rutinitas kampus, interaksi lintas budaya, dan pembelajaran yang tidak selalu ada di buku teks.

Tinggal di Dorm Internasional, Hidup Seperti Mahasiswa Lokal

Sesampainya di Wuhan, para mahasiswa langsung menempati international students dorm. Di sinilah cerita kecil sehari-hari immersion program mulai terbentuk: bangun pagi dengan udara musim dingin, berjalan ke kelas sambil menyapa mahasiswa dari berbagai negara, hingga belajar menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru. Setiap mahasiswa juga mendapatkan student ID card atau kartu kecil yang memuat identitas mereka di lingkungan kampus.

Selama tinggal di asrama khusus mahasiswa internasional, mereka belajar berbagi ruang, menghormati perbedaan budaya, dan menyusun rutinitas mandiri.

Duduk di Kelas, Memahami Budaya Tiongkok dari Dalam

Agenda akademik menjadi bagian penting perjalanan ini. Para mahasiswa mengikuti beberapa kelas yang membahas budaya Tiongkok dan sistem pendidikan setempat. Bukan sekadar teori, kelas-kelas ini membuka perspektif tentang bagaimana nilai-nilai budaya memengaruhi cara belajar, berinteraksi, dan bahkan mengambil keputusan.

Salah satu momen yang paling membekas adalah saat mereka belajar menulis karakter Mandarin menggunakan kuas. Seni kaligrafi ini menuntut gerakan pelan, fokus penuh, dan tentu saja kesabaran. Dari aktivitas sederhana ini, para mahasiswa BINUS BUSINESS SCHOOL jurusan Business Management bisa merasakan filosofi di balik budaya Tiongkok: ketelitian, keseimbangan, dan proses yang tidak instan.

Menyusuri Sejarah Kota Wuhan

Belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Dalam immersion program ini, kota Wuhan menjadi ruang belajar terbuka. Para mahasiswa mengunjungi berbagai tempat bersejarah yang menyimpan cerita panjang peradaban Tiongkok.

Di Yellow Crane Tower, mereka menikmati pemandangan Sungai Yangtze yang terbentang luas dan memberi ruang untuk refleksi. Lalum ada Hubei Provincial Museum dengan koleksi artefak yang membuat sejarah terasa dekat. Hankou Customs Museum menghadirkan kisah perdagangan dan pertemuan budaya yang membentuk wajah kota hingga hari ini.

Di sela-sela jadwal padat, mahasiswa juga menyusuri East Lake Greenway. Jalurnya luas, danau membentang tenang, pepohonan berdiri rapi. Di sini, ritme kehidupan terasa seolah melambat. Mereka mengisi tiap momen dengan berjalan, berbincang santai, dan mencerna semua pengalaman yang sudah dilewati. Pada saat itulah mahasiswa menyadari bahwa immersion program telah memberi mereka kesempatan mengenal diri sendiri di lingkungan baru.

Lima hari mungkin terdengar singkat, tapi dampaknya bisa panjang. Di akhir immersion program, para mahasiswa pulang ke Indonesia dengan sudut pandang baru tentang dunia, pendidikan, dan peran mereka sebagai calon profesional bisnis. Sebab, mereka sudah belajar beradaptasi, berkomunikasi lintas budaya, dan memiliki keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Cerita-cerita kecil selama di sana, mulai dari mengikuti kelas, beraktivitas sehari-hari di asrama, hingga berwisata ke tempat-tempat bersejarah, akan terus hidup dan membentuk cara berpikir mahasiswa ke depan.

Kisah ini mungkin jadi pengingat bahwa belajar tidak harus selalu di kelas. Terkadang, kamu perlu pergi jauh untuk benar-benar memahami dunia dengan hidup sebentar sebagai “orang asing.”

Whatsapp