Dari BINUS ke Prancis, Kisah Fandy Lubis S2 Double Degree
Perjalanan pendidikan sering kali jadi titik balik dalam hidup seseorang, termasuk bagi Fandy Gunawan Lubis. Alumni Master of Management Professional Business Management BINUS Business School ini memilih jalur double degree hingga ke University of Burgundy, Prancis, dan lulus pada tahun akademik 2022/2023.
Apa yang mendorong dia mengambil keputusan tersebut, dan seperti apakah rintangan yang harus dia hadapi? Yuk, simak kisahnya sampai tuntas di sini!
Dari Teknik Informatika ke Dunia Bisnis
Sebelum dikenal sebagai profesional di bidang investasi, Fandy pernah menempuh pendidikan S1 Teknik Informatika (S.Kom.) di BINUS University. Pilihan jurusan ini membentuk pola pikir logis dan analitis sejak awal dalam dirinya. Namun, seiring waktu, ia menyadari ketertarikannya mulai bergeser ke arah bisnis dan manajemen.
Setelah lulus S1, Fandy memutuskan melanjutkan ke Magister Manajemen (M.M.) di BINUS Business School. Di sinilah arah kariernya mulai terbentuk lebih jelas.
Saat ini, ia bekerja di Sinar Mas Land, tepatnya di divisi Investment Management & M&A. Dalam keseharian pekerjaannya, ia melakukan analisis investasi, menjalin kerja sama strategis, hingga merancang strategi pengembangan bisnis. Tak hanya di sektor properti, ia juga berkutat dengan sektor-sektor lain yang masih berkaitan erat dengan industri tersebut.

Fase Hidup yang Menuntut Bertumbuh
Keputusan melanjutkan studi S2 dan mengambil double degree tidak datang begitu saja. Saat itu, Fandy berada di fase hidup yang cukup menantang. Perkembangan kariernya terbilang cepat, bahkan menurutnya terlalu cepat. Secara posisi dan tanggung jawab, ia melaju pesat. Namun, di saat yang bersamaan, ia merasa ada celah dalam prinsip keilmuan yang ia miliki.
“Saya merasa dalam beberapa kasus, prinsip keilmuan saya masih belum sepenuhnya kuat. Terutama, tentang corporate finance dan strategic management. Karena itu, saya merasa perlu melanjutkan studi S2 supaya kemampuan dan kapasitas saya bisa lebih seimbang dan matang,” tuturnya.
Ketika kesempatan kuliah double degree datang, Fandy tidak ingin ragu-ragu terlalu lama. Ia merasa mampu menjalaninya dan sayang sekali kalau peluang berkuliah di universitas luar negeri, khususnya dari Prancis, terlewat begitu saja. Baginya, hal tersebut mampu menjadi nilai tambah untuk CV sekaligus membentuk perspektif global.

Kejutan di Awal Perjalanan Akademik Eropa
Memulai studi di University of Burgundy membawa tantangan tersendiri bagi Fandy. Hal yang paling terasa berat adalah perbedaan cara berpikir akademik di Eropa. Sistem pembelajaran di sana menuntut mahasiswa untuk sangat kritis, terbuka terhadap debat, dan berani menyampaikan opini secara langsung.
Di luar ranah akademik, Fandy juga harus berusaha untuk beradaptasi dengan budaya, bahasa, dan cara hidup mandiri di negara orang. Semuanya harus ia pelajari dari nol sendirian dengan cepat, sehingga mau tak mau ia dituntut keluar dari zona nyaman.
Meski tantangannya cukup berat, Fandy mengaku tidak pernah benar-benar ingin menyerah. Sejak awal, ia sudah menanamkan komitmen penuh terhadap proses yang dijalaninya. Ia sadar betul bahwa kesempatan ini tidak datang dua kali.
Justru, tantangan-tantangan itulah yang membuat proses double degree terasa hidup. Ada tekanan, ada lelah, tapi juga ada kepuasan ketika berhasil melewatinya.
“Bagi saya, setiap kesulitan menjadi pemicu untuk terus maju, bukan alasan untuk berhenti,” ungkap Fandy sambil tersenyum.

Perubahan Mindset yang Paling Terasa
Jika melihat dirinya sekarang, Fandy merasa perubahan terbesarnya ada di pola pikir yang ia miliki. Setelah menyelesaikan perkuliahan di Prancis, ia merasa sudah jadi orang yang lebih percaya diri dan berani menyampaikan pendapat di lingkungan akademik maupun profesional.
“Dulu ketidakpastian itu menakutkan buat saya, tapi sekarang saya sudah bisa menghadapinya dengan lebih tenang,” katanya.
Pengalaman belajar lintas budaya juga membuat Fandy lebih terbuka terhadap perbedaan. Ia belajar bahwa sudut pandang orang lain tidak selalu harus sama, dan justru dari perbedaan itulah kualitas keputusan bisa meningkat.
Tak hanya karier, Fandy merasa kuliah double degree juga memberikannya value hidup paling membekas untuk kehidupan sehari-hari: ketahanan dan kesadaran terhadap diri sendiri. Dari proses adaptasinya, ia belajar bahwa tidak semua hal harus berjalan dengan sempurna, yang penting ia tetap konsisten berusaha dan terus mau belajar.
Setelah menyelesaikan double degree, perjalanan Fandy belum berhenti. Ke depannya, ia ingin melanjutkan studi ke jenjang S3 untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara teoritis maupun praktis. Selain itu, ia juga ingin tetap aktif berkarier sebagai profesional sekaligus mendalami dunia akademik.
Dari cerita Fandy Gunawan Lubis, kita bisa melihat bahwa double degree tak hanya memberikan gelar tambahan dari universitas luar negeri. Justru, kamu juga berkesempatan belajar mengambil kesempatan, menghadapi tantangan lintas budaya, dan menemukan nilai hidup yang lebih mendalam.
