ADTE BINUS, Workshop Kreatif untuk Mahasiswa Magister
Sore itu, ruang kelas di BINUS @ Alam Sutera tidak terasa seperti ruang kuliah. Tidak ada suasana formal dengan dosen menjelaskan panjang lebar di depan. Kamu akan menemukan meja berkelompok, post-it warna-warni, dan para mahasiswa yang sibuk berdiskusi. Di sinilah mata kuliah Advanced Design Thinking and Entrepreneurship (ADTE) berlangsung.
Menurut pengampunya, Bapak Amir Fikri, kelas ini adalah tempat aman untuk bereksperimen. Mahasiswa S2 Master of Management (MM) Innovation & Entrepreneurship datang dari latar belakang yang berbeda, mulai dari karyawan korporasi, pelaku usaha kecil, sampai profesional kreatif. Tapi, begitu memasuki kelas ADTE, mereka punya satu tujuan, yaitu mencari cara baru melihat masalah dan membangun solusi nyata.
Apa yang Terjadi di Dalam Kelas?
ADTE bukanlah mata kuliah yang meminta kamu mencatat teori selama dua jam. Justru, formatnya berbasis workshop tentang design thinking. Sejak sesi awal, mahasiswa diminta berpartisipasi aktif dalam kelompok kecil untuk melakukan simulasi kasus nyata, melakukan roleplaying, brainstorming berbagai ide out of the box, dan mempresentasikan ide secara dadakan,
Bapak Amir menjelaskan, pendekatan ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya tahu konsep, tapi juga terbiasa menerapkannya. Karena itulah, ia menyamakan metode belajar di kelas ini dengan alur kerja di startup yang serba cepat, kolaboratif, dan selalu menuntut ide kreatif.
Tujuan Belajar yang Lebih Dalam
Terkadang, mahasiswa terbiasa mencari jawaban yang benar. Di kelas ADTE, justru jawaban yang salah juga tak kalah berharga, asalkan bisa menjadi bahan eksplorasi berikutnya.
Prinsip ini sejalan dengan pendekatan design thinking dan tujuan utama mata kuliah ADTE, yaitu melatih mahasiswa agar bisa membaca perubahan pasar, menemukan peluang bisnis baru, membangun solusi inovatif, dan mengambil keputusan berdasarkan pemahaman manusia (user insight), bukan asumsi.
Bagian paling menantang dari ADTE mungkin adalah output-nya. Sebab, mata kuliah ini meminta bukti nyata dalam wujud ide bisnis baru, business plan dengan hitungan strategi, prototipe sederhana, konsep pemasaran kreatif, serta solusi nyata untuk isu bisnis atau sosial di akhir semester.
Ada kalanya proyek itu selesai di kelas, tapi ada juga yang berkembang bahkan setelah memasuki semester baru.
“Beberapa mahasiswa bahkan menjadikan hasil karya mereka di kelas ini landasan untuk mendirikan usaha asli mereka,” ungkap Pak Amir.

Menjadi Pembeda Program MM BINUS
Bapak Amir melihat mata kuliah ADTE sebagai keunggulan penting di program MM Innovation & Entrepreneurship. Menurutnya, tidak banyak kampus swasta lain, bahkan yang berakreditasi unggul, yang memasukkan mata kuliah kreatif semacam design thinking sebagai fondasi pembelajaran manajemen. Justru, di mata beliau, program magister manajemen lainnya lebih sering berfokus pada ilmu manajerial klasik.
Baginya, mata kuliah ADTE bisa memperkuat praktik inovasi, kepekaan entrepreneurship, kemampuan menerapkan design thinking dalam industri mana pun, dan mengasah keberanian merumuskan solusi yang belum pernah dicoba.
Di banyak sesi, mahasiswa menghabiskan lebih banyak waktu bertanya “siapa pengguna kita?” dibanding “fitur apa yang harus kita buat?” Mahasiswa berkesempatan belajar dari studi kasus, dari rekan satu tim, dan dari kegagalan kecil di kelas tentang strategi inovasi, manajemen teknologi, pengembangan produk, serta ekosistem kewirausahaan dan startup.
“Saya rasa hal ini relevan dengan kondisi bisnis yang makin tidak bisa diprediksi,” pungkasnya. “Terutama karena sudah banyak model bisnis yang berubah seiring cepatnya pergerakan industri. Apa yang dulu populer, belum tentu relevan saat ini atau ke depannya.”
Kelas design thinking dari MM Innovation & Entrepreneurship BINUS Business School menawarkan pengalaman belajar yang menyeluruh berbasis kondisi nyata di lapangan. Sebab, kamu bisa mempelajari cara menavigasi konflik dengan rekan tim jika ada perbedaan ide, memperkuat keteguhan untuk berulang kali mengubah ide, dan mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitar agar dapat menciptakan ide kreatif dan relevan.
Semua itu akan menjadi bekal penting ketika kamu ingin membangun bisnis, bekerja di perusahaan raksasa, atau memimpin tim. Berbekal rasa ingin tahu dan empati yang tinggi, serta kesiapan mengubah keresahan orang lain jadi peluang baru, kamu bisa sukses di bidang apa pun yang kamu jalani.