Industri Perhotelan: 6 Alasan Konsumen Memesan Hotel Saat Pandemi Covid-19

Industri perhotelan merupakan salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Data dari BPS atau Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat hunian kamar hotel pada 2020 hanya mencapai angka 3,9%.

Namun, ternyata industri perhotelan bisa kembali bangkit. John Safenson, Vice President of Market Management, Accommodation Traveloka.com menyebutkan, industri perhotelan mulai bangkit pada tahun 2021. Trennya memang cenderung turun saat kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) diterapkan. Namun, saat kebijakan diangkat, angkanya kembali naik.

Menariknya lagi, survei yang dilakukan oleh Traveloka justru menunjukkan adanya suatu tren baru dalam industri perhotelan, yaitu tren staycation. Nah, staycation sendiri merupakan konsep liburan di dalam kota (atau lokasi yang jaraknya tidak terlalu jauh) dengan memanfaatkan fasilitas hotel. Data dari Traveloka menunjukkan bahwa staycation bahkan mencapai angka 35,87% dari keseluruhan pemesanan hotel. Apa kira-kira yang menyebabkan konsumen memesan hotel saat pandemi?

Alasan Konsumen Memesan Hotel Saat Pandemi

Dalam diskusi panel BINUS BUSINESS SCHOOL Indonesia Business Outlook 2022 Conference, John Safenson juga membagikan insight dari Traveloka mengenai alasan konsumen melakukan pemesanan kamar hotel selama masa pandemi Covid-2019. Beberapa alasan tersebut di antaranya:

  1. Hotel menjalankan prokes

Dalam survei yang dilakukan Traveloka, kebersihan dan penerapan protokol kesehatan (prokes) menjadi alasan utama pelanggan dalam memesan hotel. Sekitar 53% dari keseluruhan pemesanan, menjadikan dua hal tersebut sebagai indikator untuk memilih hotel atau penginapan.

Kebersihan dan penerapan prokes membuat konsumen merasa aman meski bepergian. Sebab, kedua faktor tersebut menunjukkan komitmen pihak hotel atau pengelola akomodasi dalam mencegah penyebaran virus Covid-19.

  1. Promo atau diskon

Setelah kebersihan dan penerapan prokes, promo atau diskon menjadi alasan yang mendorong konsumen untuk melakukan pemesanan. Dengan adanya promo atau diskon, konsumen bisa menginap dan menikmati berbagai fasilitas tanpa harus menguras kantong terlalu dalam. Traveloka sendiri telah mengadakan event promo besar-besaran pada Oktober 2021. Promo tersebut nyatanya berhasil menarik minat masyarakat untuk melakukan pemesanan kamar hotel.

  1. Tersedia opsi refund

Di masa pandemi, semua hal terasa tidak pasti. Pada minggu ini bisa bepergian dengan bebas, tapi pada minggu berikutnya belum tentu bisa. Hal ini tentu akan membuat calon konsumen berpikir dua kali sebelum melakukan pemesanan.

Mereka khawatir akan membuang uang sia-sia karena tidak bisa menginap saat kebijakan pembatasan aktivitas diterapkan. Untuk mendorong tingkat pemesanan, pihak hotel kemudian menyediakan opsi refund. Terbukti, cara ini berhasil mendatangkan lebih banyak konsumen.

  1. Menawarkan reschedule

Di samping refund, sebenarnya ada juga kelompok konsumen yang ingin tetap menginap. Hanya saja, mereka ingin mengubah jadwal. Misalnya, yang semula akan check in pada 17 Agustus, digeser menjadi tanggal 30 Agustus. Sebab, pada tanggal 17 Agustus, kebijakan PPKM level 5 sedang berlaku.

Tidak hanya menguntungkan konsumen, strategi reschedule atau penjadwalan ulang ini juga membawa berkah bagi pihak hotel. Ini karena mereka masih bisa tetap mendapatkan pemasukan dan tidak harus mengeluarkan biaya untuk refund.

  1. Bisa dibayar saat check-in

Alasan lainnya adalah tersedia opsi pembayaran saat check-in hotel. Platform pemesanan seperti Traveloka.com umumnya menerapkan pembayaran ketika konsumen melakukan booking melalui aplikasi atau website.

Namun, ternyata dengan menyediakan opsi pembayaran ketika check-in juga bisa menarik minat konsumen. Biasanya, hal ini dilakukan konsumen untuk meminimalisir risiko rugi karena tidak jadi menginap di hotel.

  1. Ada layanan tambahan gratis

Alasan terakhir konsumen melakukan pemesanan saat pandemi adalah karena adanya layanan tambahan gratis. Jika pada hari-hari normal layanan seperti room service, laundry, breakfast, hingga early check-in berbayar, maka pada masa pandemi, beberapa hotel dan akomodasi justru menyediakannya secara gratis. Bahkan beberapa hotel memberikan promo tambahan lainnya jika tamu dapat menunjukkan bukti vaksinasi. Misalnya, gratis snack atau potongan untuk pembelian makanan.

Meski disebut-sebut sebagai sektor yang akan lama pulih setelah pandemi, nyatanya industri perhotelan berhasil bangkit. Para pelaku industri perhotelan bahkan menjadi semakin inovatif dan kreatif dalam menyusun strategi untuk memikat lebih banyak konsumen. Semoga ke depannya industri perhotelan dalam negeri bisa benar-benar pulih dan semakin maju!