Pandemi, Seni Pertunjukan, dan Bisnis Model Baru

Dr. Sri Bramantoro Abdinegoro
Research & Domain Expert Leader in Entrepreneurship & Innovation
BINUS BUSINESS SCHOOL – Doctor of Research in Management

Pandemi yang sedang berlangsung memang sangat mengganggu hampir semua sendi kehidupan. Orang kembali berpikir tentang bagaimana segala aktivitas berlangsung.

Pandemi, pelarangan berkumpul dan jargon terkenal “work from home” menjadi suara dan pola aktivitas yang menjadi rutinitas setiap hari. Penggunaan internet dan media elektronik menjadi keseharian yang tidak bisa dilepaskan.

Ini berlawanan dengan nature dari seni pertunjukan yang mengundang orang berkumpul untuk menonton seni pertunjukan. Sungguh situasi sulit yang harus dihadapi seni pertunjukan. Namun demikian, seni pertunjukan harus lah tetap ada dan hidup dalam dunia kesenian dan budaya sebuah bangsa.

Pertunjukan “Ngangon Kaedan: Dari Ruang Rahim” oleh Gema Swaratyagita dan Laring Project di panggung Djakarta Teater Platform, 13 Juli 2019. – Doc. Portal Teater

Tantangan Organisasi

Sebelum ada pandemi pun, seni pertunjukan menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Sebagai sebuah organisasi seni pertunjukan kebanyakan masih berkutat pada bagaimana biaya produksi pertunjukan dapat terpenuhi.

Revenue stream pada umumnya punya tiga besar utama: tiket, donatur dan iklan. Donatur, umumnya bersumber dari sahabat dan orang-orang yang peduli, sedangkan iklan tentu saja jika memberikan dampak bagi produk yang diiklankan, dan terakhir adalah sumber pendapatan dari tiket.

Selain iklan, tidak mudah mendapatkan orang-orang yang peduli. Loyalitas pada organisasi seni pertunjukan tidak bisa dibangun dengan seketika. Perlu waktu yang cukup lama membangun loyalitas, sebuah organisasi seni pertunjukan harus memiliki pertunjukan yang rutin agar dikenal dan memiliki kekhasan dalam seni pertunjukannya.

Menyiasati agar orang (donatur dan pembeli tiket) dan perusahaan (iklan) menjadi loyal ini lah yang menjadi tantangan terbesar organisasi seni pertunjukan.

Gema Swaratyagita, Laring Project dan Komite Teater DKJ di panggung Djakarta Teater Platform, 13 Juli 2019. – Doc. Portal Teater

Model Bisnis Baru

Kondisi pandemi dan work from home hendaknya juga memberikan sebuah insight baru dalam melakukan model bisnis seni pertunjukan. Sudah harus dipikirkan oleh pekerja seni pertunjukan, bagaimana internet dan sistem informasi yang kini menjadi bagian hidup manusia menjadi alat yang memadai dan menguntungkan seni pertunjukan.

Penulis memprediksi bahwa menonton dari rumah atau menonton secara tidak langsung menjadi trend atau bahkan kebutuhan penonton yang tidak dapat dihindari. Hal ini harus dieksplorasi agar membantu organisasi seni pertunjukan tetap eksis dan hidup.

Maka jika saat ini, sarana internet atau media sosial menjadi salah satu cara bagaimana penonton membeli tiket, di dalam waktu yang tidak lama di masa datang, tinggal diteruskan selangkah lagi yaitu melalui media internet orang bisa membeli tiket dan mendapat password untuk bisa akses untuk melihat seni pertunjukan. Sistem ini, yang barangkali akan menjadi apllikasi seni pertunjukan relatif mudah dibuat.

Dalam kemajuan teknologi informasi saat ini yang luar biasa cepat. Organisasi seni pertunjukan harus mampu beradaptasi dengannya. Perilaku orang dan penonton yang berubah, lingkungan masa depan yang tidak pasti dan juga akan berubah harus dapat diantisipasi dengan baik demi kelangsungan seni pertunjukan di masa depan.

Jika sebagai individu, organisasi seni pertunjukan belum mampu melakukannya sendiri maka asosiasi atau semacam Dewan Kesenian harus menjadi fasilitator bagi mereka.


*Penulis adalah Dosen dan Kepala Peminatan Entrepreneurship & Innovation, Program Doktor BINUS Business School, Peminat seni

Sumber: https://portalteater.com/pandemi-seni-pertunjukan-dan-bisnis-model-baru/