BINUS Business School

Gaya Memimpin CEO Fintopia untuk Dorong Pertumbuhan Bisnis Lebih Melesat

Fintopia Indonesia sebagai perusahaan rintisan platform kredit digital, bertumbuh pesat di usia yang tahun ini menuju 6 tahun, berhasil menggaet 24 juta pengguna. Per Desember 2022, Fintopia  telah menggelontorkan total pinjaman sebesar Rp 30 triliun. Bahkan pada tahun ke-2, startup ini mengaku sudah meraih keuntungan.

Hal ini disampaikan Dr. Jonathan Chang, CEO Fintopia Indonesia pada acara CEO Speaks yang diselenggarakan oleh BINUS Business School belum lama ini. Dalam menjalankan bisnis, produk dan layanan terbaik adalah keharusan, yang tidak kalah penting dalam mendorong pertumbuhan bisnis adalah pengelolaan SDM yang baik dan leadership pada pemimpin bisnisnya.

Jonathan menjelaskan ada 4 kunci keberhasilan Fintopia yaitu menghadirkan layanan keuangan dengan solusi teknologi terkini, menjaga hubungan baik dengan mitra-mitra strategis, membangun ekosistem digital yang mendukung dan menghadirkan produk serta layanan terbaik yang dibutuhkan masyarakat saat ini.

Kunci keberhasilan itu berkat upaya Fintopia dalam memperkuat ekosistem digital Indonesia dengan membina talenta-talenta muda agar meningkatkan penguasaan mereka terhadap teknologi. Asal tahu saja, lebih dari 460 karyawan Fintopia Indonesia  didominasi oleh talenta muda dengan rata-rata usianya 27 tahun.“Sekitar 15 di antaranya adalah Binusian—sebutan para lulusan Binus—kami sudah lama bekerja sama juga dengan Binus dalam hal riset, edukasi dan pengembangan SDM,” ungkapnya.

Jonathan yang lahir di Indonesia tapi besar di Amerika ini memimpin Fintopia Indonesia sejak Juli 2022, dia sangat memperhatikan bagaimana mengembangkan talenta muda di Fintopia Indonesia.

Menariknya, partisipasi perempuan lumayan tinggi di Fintopia. Ini terlihat dari porsi perempuan mencapai 58% di antara talenta muda yang berkarya di Fintopia dan mereka menempati berbagai posisi strategis Jonathan mengaku sebagai pemimpin kuncinya adalah memahami anak buahnya. Cara dia memahami SDM yang mayoritas muda, salah satunya dengan banyak membaca media-media yang sesuai generasi mereka. “Saya suka menggali ilmu dan masukan dari bacaan, semua media saya baca, termasuk media-media Gen Z,” ungkapnya.

Jonathan menerapkan gaya authentic and adapted leadership. Menurutnya, tidak bisa menerapkan satu style leadership pada semua orang. “Maka itu saya lebih senang ngobrol dengan tim, tidak terlalu serius ngobrolnya, supaya bisa membaca dengan baik apa aspirasi karir dab ide mereka, juga latar belakangnya,” terangnya.

Menurut Jonathan, pemimpin yang baik adalah yang bisa membawa anak buat atau timnya bertumbuh dengan segala keunggulan mereka. “Pemimpin harus bisa memaksimalkan keunggulan tiap individu dalam timnya. Berdiskusi apa yang menjadi aspirasi karirnya ke depan,” ujarnya.Dia menuturkan tidak seperti perusahaan rintisan pada umumnya yang karyawannya bergelimang fasilitas dan kenyamanan di kantor, Fintopia menata kantar cukup membuat karyawan nyaman dalam bekerja.

“Kami menjalankan bisnis dengan sangat efisien. Maka dari itu, pada tahun ke-2 Fintopia sudah profit. Kami tidak seperti umumnya startup yangmenyediakan kemewahan agar karyawan betah di kantor seperti kafe di dalam kantor, ruang fitnes, camilan berlimpah dan sebagainya. Cara ini membuat bisnis kami bertumbuh sangat baik. Bukan sekadar bakar uang, budget yang kami keluarkan memang harus dikeluarkan,” jelasnya.

Perusahaan ini sangat mengutamakan teknologi berbasis machine learning dan artificial intelligence (AI) guna mewujudkan tujuan menjadi mitra digital terdepan bagi ekosistem digital Indonesia, yang mencakup pengguna dan rekan bisnis. Dr. Jonathan dengan pengalaman bekerja di perusahaan teknologi global, seperti Google dan Shopify menegaskan bahwa timnya harus memenuhi 5 nilai. Kelima nilai atau vakues itu adalah  Be open, Purse excellence, Be efficient and effective  dan Act prudently and optimistically 

Penerapan teknologi inovatif turut menjadi bagian fundamental dalam meningkatkan kualitas produk dan layanan. Oleh karena itu, Fintopia berencana untuk menyempurnakan teknologi machine learning dan AI di platform agar pinjaman dapat diproses dengan lebih cepat serta efisien. Pria yang pernah menjadi advisor dalam digital transformation di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di tahun 2022 ini mengakui bahwa tantangan terbesarnya memimpin perusahaan fintech P2P lending adalah menghadapi persepsi negatif pelaku bisnis di industri yang digelutinga.

“Tidak adil, hanya karena ada yang melakukan hal buruk, lalu kami yang menjalankan bisnis dengan baik dan benar disamakan dengan mereka,” ungkapnya. Menurutnya sebagai perusahaan berbasis teknologi Fintopia menghubungkan pemilik dana dengan peminjam yang bisa membantu mengatasi kesenjangan ekonomi, dorong tingkatkan ekonomi, bisnis dan menjadi solusi.

“The ABCD atau 4 kunci area Fintopia adalah AI, Blockcain, cloud computing and big data. Fintech tentu berisiko, tapi saya bersyukur di Indonesia selain pasar yang potensial didukung organisasi atau komunitas, konsumen dan OJK, asosiasi fintech, yang bisa membereskan pemain-pemain nakal,” jelas Jonathan.

Sebagai leading platform untuk P2P lending, Fintopia bertumbuh sangat baik, kini ada 24 juta pengguna yang registrasi menjadi nasabah. “Untuk menjadi nasabah Fintopia bukan sekadar setor KTP saja untuk bisa dapat dana dari kami, Teknologi mestinya menekan kesalahan-kesalahan dalam pemberian lending. Kepatuhan juga menjadi pegangan kami, agar tetap terjaga kerja kami sejalan dengan regulator,. Dan kami selalu melihat sebagai global company, melihat kasus dan pengetahuan dari berbagai negara adalah masukan yang bisa memaksimalkan perusahaan,” ujarnya.

Untuk mengembangkan bisnis lebih cemerlang ke depannya, Fintopia merangkul lebih banyak penyedia pinjaman ritel institusional, seperti bank dan penyedia pinjaman individu. “Kami tidak sempurna, tapi yg utama kami selalu mendorong diri untuk lebih baik lagi tiap harinya,” tandasnya.Walau sulit, lmengubah persepai negatif, kata Jonathan harus dilakukan bersama. Bekerja sama dengan pemain lain dalam mengdukasi masyarakat, namun yang utama sebagai pemain bisa memberikan contoh baik dalam mengelola bisnis ini. **

 


Berita ini dipublikasikan oleh swa.co.id.