Union House, Komunitas untuk Teman Disabilitas dan Nondisabilitas

Dalam acara Indonesia Business Outlook 2022 – Business Talkshow, BINUS Business School mengadakan webinar bertajuk “The Rise of Creative Economy”. Dalam acara ini, terdapat delapan sesi talkshow nonstop yang diisi dengan topik beragam.

Salah satu pematerinya adalah Cristy Natalia Lontoh, alumni BINUS Business School sekaligus founder Union House, yang berbagi pengalamannya dalam membangun komunitas tersebut. Mari berkenalan lebih dekat dengan Union House dan simak keseruan ceritanya!

Apa itu Union House?

Union House adalah sebuah komunitas yang menjadi wadah para disabilitas untuk bekerja sama dengan banyak orang, baik dengan disabilitas lainnya maupun dengan nondisabilitas. Anggota komunitas ini berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia.

Union House dibangun untuk melatih skill secara inklusif dengan tidak membatasi para disabilitas yang bergabung di dalamnya. Anggota disabilitas yang berada dalam komunitas ini tidak hanya para disabilitas netra, melainkan juga para tunarungu, tunawicara, dan lain-lain. Semua orang dalam komunitas ini saling berkomunikasi, berbagi, dan belajar bersama.

Mengapa Union House Didirikan?

Berawal dari banyaknya orang nondisabilitas yang merasa bingung saat akan bekerja sama dengan para disabilitas, Cristy selaku pendiri Union House memiliki ide untuk membangun sebuah komunitas. Cristy juga melihat masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang kehadiran para disabilitas yang sebenarnya memiliki banyak potensi dan bakat yang patut dikembangkan.

Motivasi kuat mendirikan Union House lainnya adalah adanya harapan agar komunitas yang didirikan menjadi jawaban bagi teman disabilitas untuk lebih dikenal, dapat saling berelasi, dan berkarya secara bersama-sama. Dengan begitu, Union House dapat menjadi jembatan untuk saling bertukar ide sekaligus menghilangkan sekat antara disabilitas dan nondisabilitas. 

Union House sendiri didirikan oleh enam orang tim inti, tiga di antaranya adalah teman disabilitas, sedangkan tiga lainnya adalah nondisabilitas. Selain tim inti yang terdiri dari teman disabilitas dan nondisabilitas, tiap divisi juga diisi dengan komposisi yang sama. Dengan begitu, semua anggota di dalamnya bisa saling berbaur tanpa memandang latar belakang.

Launching Komunitas Union House 

Saat Union House didirikan, komunitas ini mengadakan launching dengan menyelenggarakan webinar yang turut dihadiri oleh teman-teman disabilitas dan nondisabilitas. Acara ini dilaksanakan selama satu bulan secara online dengan mengundang para mentor berkualitas sebagai narasumber utamanya. 

Mentor yang Wakili Teman Disabilitas dan Nondisabilitas

Para mentor yang diundang pun mewakili teman-teman disabilitas dan nondisabilitas. Misalnya, mentor perwakilan disabilitas yang menjadi narasumber adalah pendiri Kopi Tuli. Selain pendiri Kopi Tuli, ia juga menjadi seorang dosen tunanetra di Unika Atma Jaya dan sudah menyelesaikan pendidikan doktoralnya sembari menjadi mentor mewakili teman-teman disabilitas.

Saat itu, dosen tersebut mengisi webinar tentang mental health, sementara mentor yang mewakili teman nondisabilitas pun turut dihadirkan, salah satunya adalah seorang psikolog di Wisma Atlet. Kehadiran para mentor yang mewakili teman disabilitas dan nondisabilitas secara seimbang ini tentunya dapat menjawab kebutuhan informasi semua anggota.

Suka Duka Pendiri Union House

Ada banyak suka dan duka yang dirasakan oleh para pendiri Union House, tak terkecuali bagi Cristy. Dalam perjalanan membangun komunitas Union House, Cristy merasa senang karena dapat bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia, baik teman-teman disabilitas maupun nondisabilitas.

Komunitas ini juga dapat berjalan dengan baik meskipun anggotanya berada di berbagai penjuru dan dapat saling berkumpul serta berkomunikasi secara online kapan saja. Dalam prosesnya, semua anggota dilatih untuk dapat berkomunikasi dengan empati dan sensitivitas yang tinggi agar interaksi dapat berjalan dengan lancar dan nyaman. 

Namun, hal yang membuat Cristy sedih adalah ia belum mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan teman-teman komunitas. Hal ini disebabkan kondisi pandemi yang belum mereda. Pertemuan pertama semua anggota pun dilakukan secara online hingga saat ini. Meski begitu, kondisi ini tidak mengurangi esensi pendirian Union House. Komunikasi secara virtual dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, sehingga tetap memudahkan teman-teman disabilitas dan nondisabilitas untuk berbaur dan saling tolong-menolong.