Smart Branding Sejarah & Budaya Melalui Game Virtual Reality

“Smart people learn from their experience, wise people learn from virtual reality”.

Itulah yang disampaikan oleh I Wayan Lovayana, S.E., dalam Business Talkshow bertema “The Rise of Creative Economy” yang diselenggarakan oleh BINUS BUSINESS SCHOOL (BBS). Alumni BBS Master Program jurusan MM in Creative Marketing ini merupakan founder CV Digital Lontar Nusantara & Tahoma Virtual Reality Cafe. Ia percaya bahwa tugasnya sebagai seorang entrepreneur adalah membangun dan memberi solusi untuk berbagai permasalahan yang ada di masyarakat.

Virtual Reality (VR) sendiri adalah sebuah teknologi canggih yang dapat dimanfaatkan untuk metode pembelajaran dan bermain game. Melalui perusahaan yang ia bangun, I Wayan Lovayana ingin membuat metode pembelajaran sejarah, bagi generasi muda khususnya, menjadi lebih interaktif dan menyenangkan. Sebagai orang Bali, ia juga ingin berkontribusi dalam mengatasi berbagai permasalahan akibat pandemi Covid-19, terutama penurunan di bidang pariwisata Bali yang disebabkan oleh kurangnya pengembangan di bidang teknologi. 

Mengapa Sejarah Penting?

Ada banyak kata-kata bijak tentang kebangsaan yang disampaikan oleh Ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia. Salah satunya adalah bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarah dan menghormati jasa pahlawan. Kata-kata bijak ini mungkin cukup familiar di telinga, namun I Wayan Lovayana menjadi satu dari segelintir orang yang melakukan aksi nyata dalam membantu masyarakat lebih melek sejarah agar menumbuhkan rasa patriotisme atau kecintaan terhadap tanah air.

Sementara sejarah memainkan peran penting dalam membuat Indonesia menjadi bangsa yang kuat, I Wayan menyadari bahwa metode pembelajaran sejarah di sekolah bisa dibilang masih membosankan dan kurang interaktif.

Tujuan Utama Game VR Bertema Sejarah

Ada dua tujuan utama I Wayan menciptakan game VR bertema sejarah. Pertama, ia ingin mengubah metode pembelajaran sejarah yang selama ini membosankan menjadi lebih interaktif. Ia berharap agar game VR yang membuat proses visualisasi menjadi lebih mudah dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan semangat patriotisme di Indonesia.

Tujuan yang kedua adalah membuat inovasi pada bidang pariwisata dengan memanfaatkan revolusi industri 4.0 lewat virtual tour yang bisa digunakan sebagai alat promosi pariwisata selama dan setelah pandemi. 

VR menawarkan simulasi sebagai solusi, sehingga membuat semua orang bisa masuk ke dunia sejarah dan belajar dengan lebih menyenangkan. Dalam menciptakan game VR, I Wayan menekankan pengenalan karakter-karakter penting dalam sejarah untuk membangun ketertarikan masyarakat, khususnya generasi muda. Dengan demikian, anak-anak muda akan memiliki minat untuk menggali sendiri informasi mengenai tokoh-tokoh nasionalis dan sejarah Indonesia. Hal ini ia usahakan lewat game VR bernama Puputan Legend Kebo Iwa Multiplayer. 

Pemanfaatan Game VR Untuk Bidang Pariwisata

Bali merupakan salah satu destinasi wisata paling populer di Indonesia, bahkan dunia. Selama pandemi tahun 2021 lalu, kunjungan wisatawan domestik ke Bali mencapai angka 4,3 juta orang. Jumlah ini memang merosot dibanding tahun-tahun sebelum pandemi, namun cukup membuktikan bahwa Bali masih menjadi primadona lokasi wisata dalam negeri. 

I Wayan menilai bahwa pemahaman terkait sejarah berbagai objek wisata di Bali masih sangat minim. Hal ini disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah kualitas storytelling guide yang kebanyakan kurang valid, terbatasnya waktu untuk menjelaskan sejarah, ditambah visualisasi yang kurang baik. Itu sebabnya ia membangun virtual tour sebagai alat untuk mengatasi berbagai tantangan pariwisata selama pandemi. 

Tantangan Dalam Membuat Game VR

Dalam proses pembuatan game VR, ia tentu menghadapi banyak tantangan, terutama pada aspek peralatan dan produksi. Saat baru memulai, I Wayan mengaku masih kekurangan banyak peralatan terkait pembangunan game VR, misalnya dalam mengelola bug. Namun, sekarang ia bersama timnya sudah mampu menjalankan proses produksi dengan baik berkat semakin lengkapnya peralatan yang dimiliki oleh perusahaan game VR ini.

Usaha dan kerja keras I Wayan dalam membangun game VR bertema sejarah tidak ia lakukan sendirian. Kesuksesan perusahaannya tidak lepas dari bantuan yang diberikan oleh banyak pihak sebagai funder, seperti dari Kementrian Perindustrian RI, Bank Indonesia, Indonesia VR/AR Association (INVRA), Royal Academy of Engineering, hingga Leaders in Innovation Fellowships. 

Target Game VR ke Depannya

I Wayan Lovayana memiliki target agar game VR bisa jadi e-sport ke depannya. Ia ingin game VR yang ia bangun nantinya bisa dimainkan pada cabang pekan olahraga daerah/provinsi dan pekan olahraga pelajar. Unique selling value game VR buatan I Wayan Lovayana terletak pada aspek budaya, seperti terlihat dari game dengan tema permainan musik tradisional. Keunikan ini membuat game VR buatannya berhasil terjual sebanyak 107 copy di sembilan negara. 

Di bidang pendidikan sendiri, I Wayan Lovayana tengah menggarap proyek AR Children’s Storybook of Nusantara bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. Proyek ini bertujuan menarik perhatian generasi muda untuk belajar sejarah atau kisah-kisah Hanoman dan pewayangan. Untuk mempromosikan wisata budaya, game VR juga punya banyak sekali potensi, salah satunya lewat Puri Anom Royal Palace for Prewedding Experience.

I Wayan Lovayana membuktikan bahwa hal-hal yang terkesan “jadul” seperti pembelajaran sejarah pun dapat menjadi lebih interaktif berkat teknologi. Memanfaatkan teknologi VR, I Wayan dan tim berhasil membuat sejarah menjadi sesuatu yang begitu menarik untuk dipelajari.