Martha Simanjuntak, Aktif Berdayakan UMKM Sambil Tekuni Berbagai Bisnis

Terlahir sebagai wanita bukan berarti karier jadi terhambat atau tak bisa berkontribusi dalam bidang pekerjaan tertentu, terutama dalam bidang IT yang selama ini cenderung didominasi pekerja pria. Padahal, menurut Country Director ILO, Michiko Miyamoto, peran wanita dan anak perempuan dalam bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) sangat penting untuk memastikan mereka tidak tertinggal akan cepatnya perubahan yang terjadi pada dunia kerja. 

Hal tersebut juga dirasakan Martha Simanjuntak, founder Indonesia Women IT Awareness (IWITA) dan pemilik Chathaulos, sebuah usaha yang bergerak di bidang fesyen. Wanita lulusan program MM Creative Marketing BINUS Business School ini sempat bekerja di perusahan yang bergerak dalam bidang IT. Melihat sedikitnya karyawan wanita yang bekerja di sana, ia kemudian menyadari adanya ketimpangan antara pria dan wanita di bidang IT.

IWITA berawal dari kegiatan nongkrong santai setiap Jumat, kemudian Martha dan teman-temannya yang bekerja di bidang serupa sadar bahwa kegiatan mereka bisa lebih produktif. Ditambah saat itu Blackberry dan Facebook sedang booming, kegiatan mereka pun berubah menjadi diskusi soal teknologi. 

Kegiatan hangout tersebut lambat laun berubah menjadi komunitas (IWITA). Pada 2011, komunitas ini dilegalkan menjadi sebuah organisasi. Hingga kini, ada tiga program besar yang dijalankan IWITA. Salah satunya adalah pemberdayaan untuk UMKM. Namun, tak hanya memberdayakan UMKM bersama IWITA, Martha juga masih aktif menekuni bisnis fesyennya, Chathaulos. Bagaimana Martha membagi waktu dan energinya?

Bantu berdayakan UMKM bersama IWITA

Salah satu program utama IWITA adalah membantu memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Fokus utamanya membantu UMKM di daerah 3T atau Terluar, Tertinggal, dan Terjauh di Indonesia. Bantuan yang diberikan tidak hanya pemasaran produk, tetapi juga mengedukasi para pegiat UMKM cara melakukan foto produk, pengemasan, hingga diunggah pada situs belanja online. Platform digital ini dibuat khusus melalui kerja sama dengan salah satu perusahaan IT swasta sebagai media untuk memasarkan produk-produk UMKM.

Sejalan dengan salah satu tagline organisasi, yaitu untuk meningkatkan awareness terhadap teknologi, program ini tidak hanya memberikan bantuan berupa modal, tetapi juga dalam bentuk edukasi dan gadget.

“Kita memberikan gadget yang bisa mereka manfaatkan. Karena untuk orang daerah, mereka bisa melakukan apa saja dengan sumber daya yang ada, tetapi mereka tidak tahu caranya bagaimana,” ungkap Martha saat hadir sebagai bintang tamu pada episode pertama podcast Binusian Big Show-off.

Martha menyadari bahwa ketika memberikan edukasi dan sosialisasi, harus dilengkapi juga dengan sarana dan prasarana yang bisa menunjang kegiatan UMKM. Selain itu, diperlukan pula bimbingan agar suatu saat mereka bisa secara mandiri menjalankan usaha masing-masing.

Aktif bergelut di bidang fesyen 

IWITA bukan satu-satunya kegiatan yang dijalani oleh wanita berdarah Batak ini. Kecintaannya terhadap fesyen membawa Martha untuk mendalami perancangan busana di salah satu institusi pendidikan di Indonesia. Hal ini merupakan wujud dari keinginannya yang terus ingin mengeksplor diri.

Martha membawa identitasnya sebagai orang Batak ke dalam rancangan produknya. Ia pun memilih untuk menjual Ulos, kain tradisional khas suku Batak. Martha menilai bahwa Ulos memiliki daya tarik yang cukup tinggi. Walau keputusannya itu sempat diragukan oleh dosennya, hal itu justru semakin menantang Martha. 

Martha memulai usaha di bidang fesyen dengan membuka toko online bernama Chathaulos. Ia melihat bahwa sebagian besar peminat produknya adalah orang-orang di luar ibu kota. Sebagai awal perjalanan bisnisnya, Martha pun memberanikan diri untuk membuka outlet di Surabaya. Berdasarkan hasil riset yang ia lakukan, Surabaya memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, bahkan berada di urutan kedua setelah Jakarta.

Tantangan beradaptasi dengan pandemi

Tantangan belum lelah menghampiri Martha. Baru saja membuka bisnis di Surabaya, pandemi COVID-19 menyerang Indonesia dan membuat semua rencana yang ia pikirkan terpaksa harus dibatalkan. Seperti kebanyakan bisnis pada masa pandemi, Chathaulos juga sempat mengalami penurunan. Rencana fashion show baju Ulos pertama di Surabaya pun harus ditunda. Misinya untuk mengembangkan bisnis di Belanda juga harus berhenti sejenak.

Namun, hal itu tidak membuat Martha menyerah. Inovasi datang ketika pemerintah mengumumkan bahwa masker kain dinyatakan aman untuk digunakan sebagai perlindungan sehari-hari. Martha pun memproduksi masker kain dari Ulos dan berhasil menjual 300 masker dalam dua bulan.

Tak terlepas dari peran manajemen bisnis yang dipelajari di BINUS Business School

Menjalankan organisasi, bepergian ke luar daerah untuk mengunjungi UMKM, dan menjalankan bisnis fesyen secara berbarengan pasti tidaklah mudah. Bagi Martha, mengelola bisnis dan organisasi IWITA membutuhkan komitmen besar. Martha mengaku bahwa untuk bisa menjalani semuanya, ia belajar banyak dari ilmu yang didapatkan semasa kuliah di BINUS Business School.

Selama mengikuti program MM Creative Marketing BINUS Business School, Martha belajar bahwa untuk bisa tetap menjalankan begitu banyak bisnis secara bersamaan, ia harus mampu memanfaatkan sumber daya yang ada, terjun ke lapangan, dan memiliki tim yang membantu dirinya.

Martha Simanjuntak menjadi bukti nyata bahwa wanita bisa aktif dan berkontribusi dalam bidang teknologi. Lewat IWITA, beliau mengedukasi serta mensosialisasikan pentingnya teknologi kepada para wanita dan pegiat UMKM. Sedangkan melalui Chathaulos, Martha menyalurkan passion-nya di bidang fesyen sekaligus memperkenalkan produk budaya Suku Batak.

Semua itu dijalankan Martha dengan penuh komitmen dan pemanfaatan sumber daya secara optimal. Tidak ketinggalan penggunaan teknologi yang membantunya untuk terus berinovasi di era digital. Berangkat dari ilmu yang ia dapatkan di program MM Creative Marketing BINUS Business School, kini Martha berhasil melebarkan sayapnya ke berbagai tempat dan membuktikan bahwa wanita juga dapat aktif berkarier di bidang yang ia senangi.