Respon Menkeu Purbaya Terhadap Bea Cukai yang Terancam Akan Dibekukan
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa memberikan ancaman terhadap Bea Cukai untuk dibekukan secara keseluruhan dan sejumlah 16.000 pegawai dari instansi tersebut akan dirumahkan. Hal ini disebabkan karena kualitas instansi dan kinerja yang kurang baik mulai dari aktivitas pengawasan lalu lintas barang di perbatasan dan pengendalian status barang yang masuk kategori impor melalui tarif denda pengenaan pajak.

Saat ini Bea Cukai mengalami masalah sistemik dalam manipulasi nilai impor atau penurunan kinerja, mulai beberapa tahun belakangan ini melihat banyaknya kasus yang terjadi dalam istansi tersebut yang kunjung disorot dan penuh kontra oleh masyarakat yang menilai bahwa pelayanan Bea Cukai yang menurun sehingga WNI maupun masyarakat dari luar negeri yang membawa barang kategori barang yang dibeli dari luar negeri dan masuk ke negara Indonesia (Impor) dikenakan biaya denda pajak yang jauh lebih tinggi dari harga beli barang tersebut.

Keberlangsungan masalah Bea Cukai ini dimulai dari peringatan terhadap Direktorat Jenderal Bea Cukai RI, Djaka Budi untuk memperbaiki kinerja instansi tersebut untuk lebih baik, Purbaya akhirnya menyoroti mengenai perubahan ambil bagian instansi Bea Cukai yang rumornya akan dialihkan ulang dan diperiksa oleh Societe Generale de Surveillance (SGS) Perusahaan multinasional negara Swiss untuk layanan inspeksi, verifikasi, pengujian, dan sertifikasi. Djaka Budi merespon peringatan Purbaya untuk optimis melakukan perubahan secepatnya agar Bea Cukai melepas pandangan dari masyarakat yaitu “sarang pungut liar” dan menjadi lebih baik.
Untuk melihat adanya perkembangan instansi Bea Cukai kearah yang lebih baik, Purbaya Yudhi Sadewa akan melakukan pengawasan ketat secara berkala ke seluruh Pelabuhan di Indonesia. Upaya lain yang bisa dilakukan Adalah pemanfaatan teknologi (AI) untuk memanfaatkan sistem kecerdasan untuk memghindari masalah seperti bentuk laporan nilai barang dalam transaksi ekspor maupun impor yang lebih rendah dari harga normal, praktik ini digunakan untuk meminimalkan pembayaran tarif Bea Cukai. Teknologi (AI) ini mampu menganalisa praktik secara transparansi keseluruhan untuk menghindari kecurangan dari pihak Bea Cukai yang mampu merugikan pelaku bisnis dan warga masyarakat. Purbaya Yudhi Sadewa membekukan Bea Cukai karena korupsi” pada dasarnya hal itu mencerminkan keresahan publik, bukan fakta kebijakan. Ia adalah ekspresi kekecewaan masyarakat terhadap praktik korupsi yang dianggap terus berulang tanpa efek jera. Negara tidak kekurangan aturan, tetapi sering kekurangan keberanian. Bagaimana pun melalui figur seperti Purbaya atau melalui kepemimpinan nasional secara kolektif, pesan publik jelas “reformasi setengah hati tidak lagi cukup”.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi, penulis memandang bahwa pembenahan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai perlu dilakukan secara menyeluruh namun tetap proporsional. Selain itu, pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dapat menjadi solusi strategis dalam meminimalkan praktik manipulasi nilai impor dan meningkatkan akurasi pengawasan lalu lintas barang. Kamu dapat mempelajari lebih lanjut mengenai dinamika International Business, termasuk isu perdagangan internasional dan kepabeanan, melalui Program Studi International Business Management (IBM) BINUS University.
Ditulis oleh : Nathanael Nivius Mahardinata – 2602145150
Daftar Pusaka Referensi :
Analisis Pengaruh Kebijakan Menteri Keuangan Purbaya terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Kepercayaan Investor
https://journal.ebisma.net/index.php/ojs/article/view/78
Respon Masyarakat Terhadap Kepemimpinan Menteri Keuangan Baru Purbaya Yudhi Sadewa Dalam Kebijakan Pajak: Survei Nasional Indonesia Oleh Indonesia Survey Center (ISC) 2025
https://padangjurnal.web.id/index.php/menulis/article/view/746
Purbaya Yudhi Sadewa: Bagaimana Menkeu Baru Mengubah Arah Anggaran Negara
Comments :