
September 2026
Gangguan supply chain yang terjadi terus-menerus menyebabkan peningkatan ketidakpastian bagi bisnis yang berada di kawasan Asia-Pasifik. Untuk menghadapi kondisi ini, APEC Business Advisory Council (ABAC) melakukan pembaruan pada Supply Chain Resilience Toolkit, sebuah alat milik ABAC yang dibentuk untuk membantu perusahaan mengidentifikasi kerentanan dan mengelola risiko dalam supply chain khususnya pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Toolkit ini dapat menilai ketahanan UMKM pada lima aspek, yaitu flexibility, visibility, connectivity, robustness, dan redundancy. Setelah melakukan penilaian, bisnis akan mendapatkan skor ketahanan serta rekomendasi praktis, mulai dari diversifikasi pemasok hingga memperkuat trade compliance.
Pembaruan ini juga mencakup tariff tool berbasis Artificial Intelligence yang membantu bisnis memahami persyaratan perdagangan yang semakin kompleks, termasuk biaya dan ketentuan dalam memindahkan barang lintas negara. Fitur ini dinilai dapat membantu perusahaan kecil yang belum memiliki tenaga ahli perdagangan khusus.
Sejak pertama kali dikembangkan setelah gangguan rantai pasok pada awal 2020-an, toolkit ini telah digunakan oleh lebih dari 2.850 bisnis di kawasan Asia-Pasifik. Kini, toolkit tersebut juga tersedia dalam tujuh bahasa dan dapat diakses secara gratis di seluruh dunia.
Perkembangan ini menunjukkan pentingnya supply chain resilience dalam menghadapi ketidakpastian perdagangan global serta bagaimana teknologi dapat membantu bisnis mengelola risiko dan mengambil keputusan secara lebih strategis.
Source: APEC
