Loading
Loading...
Menu BINUS

AS–China Perpanjang Gencatan Senjata Dagang hingga 2027: Apa Artinya bagi Global Trade dan Indonesia?

Kalau kalian rutin mengikuti perkembangan berita perang dagang Amerika Serikat dengan China yang tak kunjung ada habisnya sejak 2018 lalu, akhirnya kini kedua negara tersebut kembali memasuki fase tenang. Amerika Serikat dan China sepakat untuk melanjutkan gencatan senjata dengan memperpanjang hasil pengaturan dalam konsultasi ekonomi dan perdagangan hingga 10 Januari 2027.

Perpanjangan kesepakatan antara kedua negara dengan kekuatan ekonomi besar dan hubungan perdagangan luas ini tentu menjadi perhatian dunia. Dampak dari perubahan kebijakan dua negara besar ini bisa menjalar ke pasar, perusahaan, hingga rantai pasok yang terhubung dengan keduanya.

Konsultasi Ekonomi AS-China

Dalam konsultasi ekonomi dan perdagangan terbaru, AS dan China menyepakati pembentukan U.S.-China Board of Trade, sebuah mekanisme antar pemerintah yang bertujuan membahas dan mengoptimalkan perdagangan bilateral, khususnya untuk produk yang tidak tergolong sensitif.

Salah satu hasil utama pembahasan tersebut adalah kerangka “30-for-30”. Kedua negara telah menyepakati daftar produk dengan nilai perdagangan sekitar US$30 miliar dari masing-masing pihak yang dapat memperoleh perlakuan tarif yang lebih rendah pada kedua negara.

Daftar tersebut mencakup berbagai produk. Dari AS, antara lain terdapat produk pertanian, ikan dan hasil laut, produk kayu, kosmetik, serta perangkat medis. Sementara itu, produk China yang masuk dalam daftar ini mencakup sejumlah barang konsumsi dan produk rumah tangga.

Namun, penting untuk dicatat bahwa nilai tarif ini belum otomatis berlaku. Dokumen resmi AS menyebutkan bahwa implementasi perubahan nilai tarif tetap harus mengikuti proses hukum domestik masing-masing negara.

Dengan demikian, perkembangan ini belum dapat dianggap sebagai berakhirnya ketegangan perdagangan antara AS–China. Sebaliknya, kesepakatan tersebut menunjukkan adanya upaya untuk menciptakan ruang negosiasi dan mengelola hubungan perdagangan kedua negara secara lebih terstruktur.

Mengapa Ini Penting bagi Global Trade?

Dalam dunia global trade, perubahan hubungan dagang AS–China bukan sekadar soal naik atau turunnya tarif. Kebijakan perdagangan dapat mempengaruhi akses pasar, biaya bisnis, hingga keputusan perusahaan dalam mengatur produksi dan rantai pasok lintas negara.

Dalam kasus AS–China, pembentukan Board of Trade menunjukkan adanya upaya untuk menciptakan mekanisme komunikasi yang lebih sistematis dan terstruktur. Pemerintah China menyatakan bahwa mekanisme tersebut diharapkan dapat memperluas area kerja sama sekaligus mengurangi hambatan dalam hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara.

Perpanjangan pengaturan hingga Januari 2027 juga memberikan waktu bagi kedua negara untuk mengevaluasi pelaksanaan kesepakatan sebelumnya sekaligus dapat melanjutkan pembahasan. Pemerintah China menyebut bahwa batas waktu tersebut dapat memberikan lingkungan kebijakan yang relatif lebih stabil dan dapat diprediksi bagi perusahaan selama proses negosiasi berlanjut. 

Bagi perusahaan yang beroperasi dalam perdagangan internasional, stabilitas seperti ini penting. Perubahan tarif dan kebijakan perdagangan dapat mempengaruhi keputusan terkait pemasok, lokasi produksi, biaya logistik, hingga akses menuju pasar.

Lalu, Apa Artinya bagi Indonesia?

Indonesia memiliki hubungan perdagangan yang erat dengan AS dan China. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa pada Juli 2026, China, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama ekspor nonmigas Indonesia. Ekspor nonmigas Indonesia pada bulan tersebut bahkan mencapai US$25,43 miliar, dengan kontribusi utama berasal dari bahan bakar mineral serta produk manufaktur seperti besi dan baja serta mesin dan perlengkapan elektrik. 

Secara keseluruhan, perdagangan Indonesia juga tetap menunjukkan aktivitas yang kuat. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari–Juli 2026, ekspor Indonesia mencapai US$167,03 miliar, sementara impor mencapai US$163,33 miliar. Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$3,70 miliar.

Dalam konteks hubungan AS–China, perkembangan tersebut dapat dilihat dari dua sisi.

Di satu sisi, hubungan perdagangan AS–China yang lebih stabil berpotensi menciptakan lingkungan perdagangan global yang dapat lebih diprediksi. Indonesia yang terhubung dengan kedua pasar tersebut, kondisi ini dapat membantu pelaku usaha dalam merencanakan kegiatan perdagangan lintas negara dengan lebih pasti, termasuk dalam menentukan pasar, pemasok, dan strategi rantai pasok.

Di sisi lain, Indonesia tetap perlu memperhatikan dinamika persaingan. Apabila hubungan perdagangan AS–China semakin stabil dan akses produk China ke pasar internasional tetap kuat, perusahaan Indonesia maka akan berhadapan dengan produk-produk China yang super kompetitif.

Artinya, Indonesia tidak bisa hanya menunggu perubahan hubungan dagang antara dua kekuatan ekonomi besar tersebut. Daya saing domestik, kemampuan memasuki pasar internasional, dan posisi Indonesia dalam global value chain tetap menjadi faktor penting.

Daftar Pustaka

United States Trade Representative (USTR). (2026). Ambassador Greer Issues a Statement on Announcement of Recommendations from the U.S.-China Board of Trade. Retrieved from https://www.ustr.gov

The White House. (2026). U.S.-China Board of Trade. Retrieved from https://www.whitehouse.gov

State Council Information Office of the People’s Republic of China. (2026). Eighth round of China-US economic and trade consultations yields positive consensus, commerce ministry says. Retrieved from https://english.scio.gov.cn

Badan Pusat Statistik (BPS). (2026). Exports and Imports of Indonesia in July 2026 reached USD26.22 billion and USD26.09 billion, respectively. Retrieved from https://www.bps.go.id

Bank Indonesia. (2026). Neraca Perdagangan Juli 2026 Mencatat Surplus. Retrieved from https://www.bi.go.id

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.