
Coba lihat barang-barang di sekitar kita. Mulai dari pakaian, elektronik, sampai berbagai produk yang kita beli secara online, banyak yang punya satu kesamaan: Made in China.
Tapi, sebenarnya apa yang membuat produk dari China bisa tersebar hampir ke seluruh dunia, termasuk Indonesia?
Salah satu kekuatan China adalah kemampuannya membangun global supply chain yang terhubung, mulai dari produsen, pemasok, teknologi, hingga distribusi.
Alasannya bukan sekadar produksi murah
Harga jual barang-barang produksi China bisa sangat murah dan mudah untuk didapatkan oleh masyarakat di seluruh dunia bukan hanya dikarenakan biaya produksi yang rendah. China sudah membentuk ekosistem manufaktur yang besar dan saling terhubung. Ketika sebuah perusahaan ingin memproduksi barang, mereka tidak hanya mendapatkan akses ke pabrik, tetapi juga ke banyak pemasok bahan baku, komponen, packaging, hingga layanan logistik.
Artinya, proses dari produksi sampai barang sampai ke tangan konsumen bisa berjalan lebih cepat dan efisien.
Dan sekarang, kekuatan tersebut semakin berkembang karena teknologi digital.
Contohnya? SHEIN dan Temu
Kalau ngomongin perusahaan yang berhasil memanfaatkan supply chain China, SHEIN dan Temu adalah contoh yang dekat dengan kehidupan anak muda sekarang.
SHEIN menggunakan model on-demand production, yaitu memproduksi barang berdasarkan permintaan konsumen. Produk baru dapat diproduksi dalam jumlah kecil terlebih dahulu, kemudian produksinya ditambah jika ternyata banyak diminati. Model ini didukung oleh sistem digital yang menghubungkan data permintaan konsumen dengan pemasok dan proses produksi.
Sementara itu, Temu menggunakan model yang menghubungkan konsumen dengan jutaan merchant, produsen, dan brand. Temu juga mengandalkan jaringan logistik dan konsep Consumer-to-Manufacturer (C2M) untuk menghubungkan kebutuhan konsumen dengan produsen.
Jadi, yang membuat produk-produk tersebut bisa dijual ke berbagai negara bukan hanya karena barangnya dibuat di China. Ada sistem yang menghubungkan data, produsen, inventory, platform digital, dan logistik dalam satu rantai yang terintegrasi.
Peran Global Trade Management
Dari contoh SHEIN dan Temu, kita bisa melihat bahwa perdagangan internasional sekarang sudah jauh lebih kompleks daripada sekadar mengirim barang dari satu negara ke negara lain.
Perusahaan perlu memahami bagaimana memilih supplier, mengelola inventory, membaca permintaan pasar, mengatur distribusi, hingga menghadapi risiko dalam supply chain.
Semakin terintegrasi sistemnya, semakin besar juga kebutuhan terhadap orang yang mampu mengelola proses tersebut.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Pelajari?
China menunjukkan bahwa kekuatan dalam global trade bukan hanya tentang siapa yang bisa memproduksi barang paling murah, tetapi juga siapa yang mampu membangun supply chain yang cepat, terhubung, dan responsif terhadap perubahan pasar.
SHEIN dan Temu hanyalah dua contoh bagaimana teknologi dapat mengubah cara produk dibuat, dijual, dan dikirim ke konsumen di berbagai negara.
Dan di balik semua itu, ada satu hal yang sering tidak terlihat oleh konsumen: global supply chain.
Daftar Pustaka
SHEIN. (n.d.). About SHEIN: Digitally empowered agile supply chain. Retrieved from https://www.sheingroup.com/our-group
Temu. (n.d.). About Temu. Retrieved from https://www.temu.com/about_temu/
World Bank. (2016). How has China moved-up the global value chains? Retrieved from https://blogs.worldbank.org/en/developmenttalk/how-has-china-moved-global-value-chains
World Bank. (2016). The essentials of a manufacturing ecosystem. Retrieved from https://blogs.worldbank.org/en/psd/essentials-manufacturing-ecosystem
