Kopinya Biasa Aja, Kok Tempatnya Ramai? Kenalan Yuk Sama Experience Economy.

Pernah betah duduk berjam-jam di kedai kopi padahal rasa kopinya biasa saja? Padahal kalau dipikir-pikir, rasa kopinya biasa saja. Lalu, apa yang sebenarnya kita beli?

Fenomena ini sekarang sering kita temui. Banyak Coffeshop yang selalu penuh padahal rasanya biasa saja. Jawabannya sederhana. Sekarang, Coffeshop tidak lagi sekadar berjualan kopi. Menurut riset dari Vu dkk. (2025) yang meneliti kultur kedai kopi, konsumen saat ini mencari paket lengkap. Bukan hanya kualitas kopinya, tetapi juga tempat yang estetik, ketersediaan parkir, hingga seberapa ramah baristanya. Pergeseran ini sangat nyata. Jika kopi adalah produknya, maka kedai kopi adalah pengalamannya.

Selamat Datang di Era Experience Economy

Dalam dunia bisnis, pergeseran tren ini dijelaskan lewat konsep Experience Economy di mana nilai bisnis tidak hanya diukur dari barang fisiknya, tetapi dari pengalaman yang dibawa pulang oleh pelanggan. Penelitian Banco & Kobakova (2018) menemukan bahwa kedai kopi yang laris manis adalah kedai yang berhasil memanjakan pelanggan lewat empat elemen pengalaman pelanggannya, yaitu:

  1. Estetika. Kedai kopi memanjakan mata dan hidung lewat dekorasi interior yang indah dan aroma kopi yang khas.
  2. Edukasi. Kedai kopi memfasilitasi kebutuhan produktivitas pelanggan lewat koneksi internet yang cepat dan colokan listrik. Hal ini membuat orang betah membuka laptop untuk bekerja atau belajar.
  3. Hiburan. Ada elemen hiburan dari alunan musik latar dan ruang yang nyaman untuk bersosialisasi bersama teman-teman. Layanan yang dikustomisasi seperti menulis nama di gelas juga termasuk di dalamnya.
  4. Eskapisme. Ini adalah pelarian sejenak dari penatnya rutinitas, misalnya lewat kelas menyeduh kopi atau sekadar mengobrol santai dengan barista mengenai asal-usul biji kopi.

Pelayanan Sebagai Penentu Loyalitas

Fasilitas bagus memang membuat orang datang, tetapi pelayanan yang bagus membuat pelanggan kembali lagi. Pada tahun 2021 Rashid dkk. meneliti ratusan pengunjung Coffeshop untuk mencari tahu apa yang membuat mereka loyal. Ternyata kuncinya adalah interaksi dengan staf. Cara barista menyapa saat kita membuka pintu, seberapa cepat pelaynannya, sampai obrolan kecil di meja kasir ternyata menciptakan nilai pengalaman yang membekas.

Nilai pengalaman inilah yang akhirnya mengunci kesetiaan pelanggan. Oleh karena itu, kalau ditanya “kenapa suka nongkrong di situ?”,  jarang ada yang menjawab “karena kopinya paling enak”. Kebanyakan pasti menjawab “karena tempatnya nyaman untuk bekerja” atau “baristanya asik”. Pada akhirnya, walaupun harga kopinya sedikit mahal, pelanggan tetap merasa harganya masuk akal karena pengalaman yang menyenangkan.

Pelajaran Berharga untuk Bisnis

Di sinilah kunci penting bagi para pelaku bisnis ritel dan jasa. Jangan hanya bertanya mengenai produk apa yang mau kita jual, tetapi mulailah tanyakan apa yang pelanggan rasakan saat membeli produk kita. Dua buah kedai bisa saja menyeduh biji kopi yang sama persis, memakai mesin yang sama, dan mematok harga yang sama. Akan tetapi, kedai yang mampu meracik pengalaman terbaiklah yang akan memenangkan hati pelanggan. Karena di kedai kopi, kita tidak sekadar membeli kopi, kita membeli suasana.

Referensi

Banco, M., & Kobakova, D. (2018). Turning a commodity into an experience: The “sweetest spot” in the coffee shop. In Innovative Marketing (Vol. 14, Number 4, pp. 46–55). LLC CPC Business Perspectives. https://doi.org/10.21511/im.14(4).2018.04

Rashid, N., Nika, F. A., & Thomas, G. (2021). Impact of Service Encounter Elements on Experiential Value and Customer Loyalty: An Empirical Investigation in the Coffee Shop Context. SAGE Open, 11(4). https://doi.org/10.1177/21582440211061385

Vu, O. T. K., Alonso, A. D., Tran, T. D., Martens, W., Do, L., Nguyen, T. T., Atay, E., & Akbari, M. (2025). Coffee culture unravelled: exploring the coffee shop experience model in the Vietnamese context. Tourism Recreation Research, 50(3), 459–477. https://doi.org/10.1080/02508281.2023.2295621