Business Management BINUS x Mensa Indonesia : Memahami Makna Kecerdasan di Era Modern

Binus Bekasi | Sabtu, 23 Mei 2026. Pandangan tentang kecerdasan terus berkembang seiring perubahan zaman. Jika dahulu kecerdasan sering kali diidentikkan dengan nilai akademik tinggi atau hasil ujian semata, kini pemahaman tersebut mulai bergeser ke arah yang lebih luas. Masyarakat diajak melihat bahwa kecerdasan tidak hanya berbicara tentang kemampuan intelektual, tetapi juga mencakup aspek emosional, sosial, kreativitas, hingga kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan. Fenomena inilah yang mewarnai rangkaian acara bertema kecerdasan multidimensional, yang menghadirkan akademisi, praktisi, serta tokoh pendidikan untuk bersama-sama membahas bagaimana manusia dapat mempersiapkan diri menghadapi tantangan di era modern.
Acara dibuka dengan keynote speech oleh Dr. Dwi Larso, Direktur Beasiswa LPDP, yang membawakan tema “Diverse Intelligence: Empowering Indonesians to Compete and Thrive in the Future Global Landscape.” Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa daya saing masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh kemampuan adaptasi, kreativitas, kolaborasi, serta bagaimana individu dapat memaksimalkan potensi unik yang dimiliki dalam menghadapi perubahan global dan perkembangan teknologi.Rangkaian Insight Talks kemudian memperluas perspektif peserta mengenai makna kecerdasan.
Sesi pertama bertajuk “Nature AND Nurture, not one but both” menghadirkan Mischka Aoki sebagai pembicara, dimoderatori oleh Budijanto Gunawan, dengan panelis Nancy Dinar, Dr. Fitriani Lubis, dan Grace Sameve. Diskusi ini menyoroti bagaimana kecerdasan bukan hanya hasil faktor bawaan (nature), tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan, pola asuh, pendidikan, dan pengalaman hidup (nurture). Perspektif ini mengingatkan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk berkembang ketika mendapatkan dukungan lingkungan yang tepat.

Selanjutnya, sesi “Diversity in Intelligence” dibuka oleh Bryna Meivitawanli, Ph.D. sebagai speaker sekaligus Head of Program Business Management Binus Bekasi, dengan moderator Prof. Sevenpri Gunawan sebagai Deputy Campus Director – Academic & Student Development BINUS Bekasi, serta panelis Dr. Jacky Mussry, Franzeska Edelyn, dan Michelle Edgina. Dalam sesi ini, pembahasan mengarah pada pentingnya memahami kecerdasan sebagai sesuatu yang multidimensional. Tidak semua individu menunjukkan kecerdasannya melalui akademik; ada yang unggul dalam kepemimpinan, komunikasi, seni, kreativitas, maupun kemampuan sosial. Insight ini menjadi refleksi penting, khususnya bagi dunia pendidikan yang selama ini masih sering mengidentikkan “anak pintar” dengan nilai tinggi semata.

Menariknya, sesi “Journey of Intelligence” menghadirkan diskusi yang lebih reflektif mengenai perjalanan individu dalam menemukan dan mengembangkan kecerdasannya. Sesi ini dimoderatori oleh Dr. Andreas Wijaya bersama pembicara Waitatiri, serta panelis Dr. Sahat Simarmata dan Satria Bakti. Diskusi menyoroti bahwa kecerdasan bukan sesuatu yang statis, melainkan proses perjalanan yang terus berkembang melalui pengalaman, tantangan, pembelajaran, serta kemampuan seseorang untuk terus beradaptasi di tengah perubahan zaman.

Rangkaian acara ditutup melalui closing remarks oleh Radita Sonix dengan tema “The Future of Intelligence: When Human Potential Meets Artificial Capability.” Pada sesi penutup ini, peserta diajak melihat masa depan kecerdasan manusia di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat. Pesan penting yang disampaikan adalah bahwa teknologi tidak hadir untuk menggantikan manusia sepenuhnya, tetapi menjadi alat untuk memperkuat potensi manusia apabila digunakan secara bijak.
Melalui keseluruhan rangkaian acara, masyarakat diajak memahami bahwa kecerdasan tidak lagi dapat dipandang secara sempit. Di era modern, menjadi cerdas tidak hanya berarti unggul secara akademik, tetapi juga mampu berpikir kreatif, membangun hubungan sosial, beradaptasi, dan menemukan potensi terbaik dalam diri masing-masing. Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu mulai diajukan bukan lagi “Siapa yang paling pintar?”, melainkan “Bagaimana setiap individu dapat berkembang sesuai kekuatan uniknya”
Comments :