Halo sahabat Binus Bekasi Beken!

Pernah merasa bingung mau ke mana arah hidup setelah lulus? Kerja ada, tapi rasanya “kok gini doang”? Atau malah masih nyari kerja sambil ngerasa tertinggal karena lihat teman-teman sudah kelihatan mapan? Kalau iya, bisa jadi kamu lagi ada di fase yang sering disebut quarter-life crisis. Quarter-life crisis biasanya dialami di usia 20-an awal sampai awal 30-an. Fasenya nggak selalu dramatis, tapi isinya penuh tanda tanya: soal karier, keuangan, hubungan, sampai ekspektasi hidup. Di usia ini, kita dituntut buat “sudah jadi seseorang”, padahal kenyataannya masih banyak hal yang belum jelas.

Di satu sisi, quarter-life crisis itu nyata. Peralihan dari dunia kuliah ke dunia kerja memang nggak semudah yang dibayangkan. Tanggung jawab bertambah, pilihan makin banyak, tapi panduan hidup justru makin sedikit. Nggak heran kalau banyak orang merasa cemas, ragu sama keputusan sendiri, atau takut merasa salah jalan.Tapi di sisi lain, tekanan sosial juga punya peran besar. Media sosial sering menampilkan versi hidup orang lain yang kelihatan rapi dan sukses. Tanpa sadar, kita membandingkan proses hidup kita dengan highlight orang lain. Akhirnya muncul pikiran, “Kok aku belum sampai di situ, ya?” Padahal, setiap orang punya timeline yang berbeda. Ada yang cepat nemu jalannya, ada juga yang perlu muter dulu. Quarter-life crisis sering kali bukan tanda kegagalan, tapi tanda bahwa seseorang sedang tumbuh dan belajar memahami dirinya sendiri.

Jadi, quarter-life crisis itu bukan sekadar drama atau lebay. Ia nyata, tapi sering diperparah oleh tekanan sosial dan ekspektasi yang terlalu tinggi. Yang penting, kita sadar bahwa merasa bingung di usia 20-an itu wajar. Pelan-pelan aja, karena hidup bukan lomba cepat-cepatan, tapi perjalanan panjang yang tiap orang jalurnya beda-beda.