Antara FOMO dan Fashion yang Lebih Bertanggung Jawab

Pernah nggak sih, awalnya cuma mau scrolling media sosial sebentar, tapi ujung-ujungnya malah checkout? Melihat outfit yang lagi viral, rekomendasi influencer favorit, atau promo yang katanya “hari ini terakhir”, sering kali membuat kita merasa harus segera membeli sebelum ketinggalan.

Kalau dipikir-pikir, Generasi Z hidup di masa yang unik. Belum pernah ada generasi yang begitu mudah mengakses tren seperti sekarang. Apa yang sedang populer di satu negara bisa langsung muncul di layar ponsel kita hanya beberapa detik kemudian. Tren datang begitu cepat, dan kadang pergi lebih cepat lagi.

Tidak ada yang salah dengan menyukai fashion. Fashion adalah cara kita mengekspresikan diri. Cara berpakaian sering kali mencerminkan kepribadian, kreativitas, bahkan rasa percaya diri seseorang. Masalahnya bukan pada fashion itu sendiri, tetapi pada kebiasaan konsumsi yang kadang membuat kita membeli lebih banyak daripada yang sebenarnya kita butuhkan.

Di sinilah istilah FOMO atau fear of missing out sering berperan. Kita khawatir tertinggal tren, merasa harus mengikuti apa yang sedang populer, atau takut terlihat tidak up to date. Akibatnya, keputusan membeli sering kali dilakukan secara spontan tanpa banyak pertimbangan.

Padahal, setiap pakaian yang kita beli memiliki perjalanan yang panjang. Ada bahan baku yang digunakan, proses produksi yang dilakukan, hingga sumber daya yang dikonsumsi sebelum produk tersebut sampai ke tangan kita. Ketika pola konsumsi menjadi semakin cepat, dampak terhadap lingkungan juga ikut meningkat.

Karena itu, muncul konsep Sustainable Fashion Consumption, yaitu cara mengonsumsi produk fashion dengan lebih bijak dan bertanggung jawab. Bukan berarti kita harus berhenti belanja atau selalu membeli produk yang mahal. Justru sebaliknya, konsep ini mengajak kita untuk lebih sadar terhadap pilihan yang kita buat sebagai konsumen.

Membeli karena benar-benar membutuhkan, menggunakan pakaian lebih lama, memanfaatkan kembali koleksi yang sudah dimiliki, atau mendukung merek yang memiliki perhatian terhadap keberlanjutan adalah beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Kedengarannya kecil, tetapi jika dilakukan oleh banyak orang, dampaknya bisa sangat besar.

Bagi Gen Z, isu ini menjadi semakin penting. Kalian adalah generasi yang paling dekat dengan teknologi, tetapi juga generasi yang akan paling merasakan dampak berbagai persoalan lingkungan di masa depan. Kalian memiliki kekuatan untuk memengaruhi pasar melalui pilihan yang dibuat setiap hari.

Pada akhirnya, menjadi fashionable dan peduli terhadap lingkungan bukanlah dua hal yang harus dipilih salah satu. Keduanya bisa berjalan bersama. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit kesadaran sebelum menekan tombol checkout.

Karena menjadi keren bukan hanya soal mengikuti tren terbaru. Menjadi keren juga tentang memahami dampak dari setiap pilihan yang kita ambil.

Contributor: Oktafalia Marisa Muzammil