Agile HRM

Bab 1

Latar Belakang

Dunia saat ini berada dalam masa perputaran ekonomi yang cepat dan segala sesuatunya dilakukan serba cepat bahkan 10x lebih cepat dari 10 tahun yang lalu. Dengan perubahan yang lebih cepat menuntut organisasi maupun perusahaan untuk mengikuti perubahan yang ada taau pilihannya akan tertinggal dan tidak akan mampu bersaing dengan orang lain. Selain dari itu, dengan adanya perkembangan zaman, terciptanya solusi yang baru dan terkesan lebih mudah, namun di lain sisi terdapat masalah baru pula yang muncul. Maka, disinilah peran penting dari Agile Enterprise sebagai jawaban dari permasalahan yang ada.

Agile Merupakan sebuah Langkah dimana organisasi atau kelompok beserta orang-orang yang ada dalamnya menghadapi perubahan dengan sisitem yang lebih baik, efisien dan terjangkau. Agile wajib memaksa kita untuk melakukan adaptasi cepat menggunakan teknologi terbarukan untuk membentuk sistem sebuah organisasi maupun produksi lebih cepat dan efisien sebagai contoh, metode produksi sayuran menggunakan AI untuk membantu menyiram tanaman dan mendeteksi apakah sayuran tersebut dalam keadaan baik atau siap panen. Contoh lain yaitu  adaptasi kita dalam menggunakan Ojol (Ojek Online) seperti Grab, Gojek dan sebagainya sebagai kendaraan umum dari transportasi konvensional seperti taksi atau ojek pengkolan.

Sumber daya Manusia (SDM) sebagai sebuah tenaga atau inti agar berjalannya sebuah perusahaan.  Sumber Daya Manusia inilah yang menjadi permasalahan bila tidak di lakukan antisipasi pelatihan training dengan baik dan benar. Training yang dimaksud dengan mengajarkan mereka beradaptasi dengan lingkungan, sistem dan tata cara baru untuk mengikuti perubahan yang ada saat ini. Maka, dalam Agility Enterprise dijelaskan VUCA dan cynefin untuk membantu kita mengidentifikasi masalah dan mampu menyelesaikan masalah melalui alat bantu identifikasi tersebut. Adapun Menurut US Army War College dalam (Aribowo & Wirapraja, 2018) menyebutkan VUCA sendiri dibagi menjadi 4 segmen Volatility (Bergejolak), Uncertainty (Ketidakpastian), Complexity (Kekacauan), Ambiguity (Kebiasan).  Dari empat hal tersebut akan membantu kita melewati permasalahan. Kemudian dengan Cynefin framework yang mana memiliki lima kategori yaitu, sederhana, rumit, kompleks, kacau dan tidak terdefinisi. (Kurtz & Snowden, 2004)

Kajian Pustaka

VUCA merupakan sebuah era yang mana didalamnya menggambarkan suatu kondisi yang tidak dapat diprediksi dan terkesan ambigu akibat dari ketidakpastian tersebut akibatnya menimbulkan kecemasan (Hendrarso, 2020). Menurut US Army War College dalam (Aribowo & Wirapraja, 2018) menyebutkan VUCA sendiri dibagi menjadi 4 segmen Volatility (Bergejolak) , Uncertainty (Ketidakpastian), Complexity (Kekacauan), Ambiguity (Kebiasan).  Dari bahasa Wales, diambilah kata Cynefin yang artinya habitat. Cynefin merupakan alat bantu manusia dalam berfikir dan menyelesaikan masalah. Pola pikir penyebab dan akibat adalah pendekatan yang dilakukan ketika menyelesaikan masalah. Cynefin sendiri sering disebut sebagai Cynefin framework yang mana memiliki lima kategori yaitu, sederhana, rumit, kompleks, kacau dan tidak terdefinisi. (Kurtz & Snowden, 2004). Organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur, dan terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Organisasi merupakan sekelompok dari kumpulan orang yang berkejra sama untuk mencapai tujuan organisasi dengan sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi. (Hasibuan, 2005). Perlu adanya integrasi antara Organisasi dengan Leader agar karyawan dibawahnya merasa tetap aman. Dengan memakai Volatility (Bergejolak) , Uncertainty (Ketidakpastian), Complexity (Kekacauan), Ambiguity (Kebiasan). (Syah & Fahrani, 2019). Pada kategori known-known (simple and obvious) yang paling penting adalah peran leader dalam koorporasi anggotanya dengan best practice. Pada posisi known-unknown (complicated) good practice adalah hal yang baik dengan berkoordinasi. Pada kondisi unknown-unknown yang mana sangat chaos, maka hal yang dilakukan dengan stabilisation terhadap novel practice. (Juhro, 2020). Menurut (Boyer-Kassem, Mayo-Wilson, and Weisberg, & eds., 2017) Sangat dibutuhkan kolaborasi agar cynefin tersebut dapat dilakukan dengan brainstorming bersama tim, membuat tujuan (visi), memberikan kesempatan untuk semua boleh berpendapat dan memberikan kesempatan bagi anggota untuk merefleksikan diri apakah yakin dengan kompetensi masing-masing. Dalam sebuah organisasi terdapat karyawan yang cepat dalam beradaptasi namun ada pula yang lamban dalam beradaptasi atau menerima perubahan. (Mangundjaya, 2016). Dalam dunia saat ini memiliki persaingan yang ketat dalam beradaptasi dan berubah cepat baik untuk organisasi maupun karyawan yang ada di dalamnya. Dengan demikian karyawan dan organisasi harus mampu beradaptasi dengan cepat (Mangundjaya, 2018). Sangat penting sekali Cynefin pada era dimana Steve Jobs bertengkar dengan CEO apple saat itu terkait membahas produk Machintos pada tahun 1985 dan berujung pemecatannya dari perusahaan Apple. Yang mana sebaiknya dari teori cynefin mengatakan bahwa sebagai seorang leader (CEO) mampu melihat keadaan seperti apa yang sedang terjadi. Dari pengalam tersebut Perusahaan Apple sedang berada di kategori unknown-unknown yang mana sangat chaos, maka hal yang dilakukan dengan stabilisation terhadap novel practice.  (Juhro, 2020)

Tujuan

 

Tujuan dari karya ilmiah ini untuk membantu masyarakat umum dalam beradaptasi di lingkungan ambigu saat ini berdasarkan Era VUCA yang mana disebutkan adanya ambiguitas, masa depan yang tidak terduga, masalah bergejolak dan kekacauan. Dengan demikian, kita semua dapat bersama-sama bergerak dalam Agility Enterprise yang telah saya pelajari dari mata kuliah ini.

Kemudian dengan mengidentifikasi menggunakan Cynefin melalui pembahasan karya ilmiah ini, kita semakin tahu dan bisa melewati segala rintangan di masa mendatang dengan lebih percaya diri. Sebab dengan mengkategorikan masalah dengan Cynefin membantu kita untuk mengidentifikasikan sebuah masalah dan dapat menyelesaikannya sesuai dengan kebutuhan solusi yang tepat.

Bab 2

Di Era ini terjadi percepatan yang luar biasa dari sisi pertukaran informasi sampai perputaran roda ekonomi. Hal ini ditandai dengan beredarluasnya akses internet kesluruh wilayah Indonesia dan bahkan dunia sehingga menciptakan pertukaran informasi tanpa batas dan non-stop yang berujung pada transaksi keuangan.

Organisasi menjadi salah  satu actor penting dari perubahan dan situasi yang serba cepat ini. Organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur, dan terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Organisasi merupakan sekelompok dari kumpulan orang yang berkejra sama untuk mencapai tujuan organisasi dengan sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi (Hasibuan, 2005).

Agar mampu survive organisasi wajib untuk mengikuti perkembangan yang terjadi dan ini disebut sebagai Agility Enterprise. Perubahan ini bukan hanya sekedar perubahan namun terjadi adaptasi besar-besaran dari budaya maupun sistem sebelumnya atau kita sebut dengan konvensional. Sebagai contoh, di dalam metode pembelajaran yang sedari dulu selalu bertatap muka atau face to face sekarang tidak dapat dilakukan dengan leluasa akibat dari hal yang tidak terduga Uncertainty (Ketidakpastian). Tidak ada satu pun yang menduga bahwa Pandemi Covid-19 terjadi dan memakan berjuta-juta jiwa di seluruh belahan dunia. Pada akhirnya, organisasi di paksa untuk memikirkan solusi, apa yang akan dilakukan dalam melanjutkan proses belajar-mengajar? Maka, munculah solusi dengan pembelajaran online yang mana dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun, dengan platform Zoom Meetings, Google Meets, dan lain sebagainya.

Lalu, bagaimana cara agar mampu mengikuti perubahan yang ada? Perlu dengan mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) dengan tepat. Perlu dengan melakukan training kepada mereka terhadap perubahan ini. Dan disini peran penting seorang leader dalam memimpin anggotanya menuju perubahan. Menurut (Syah & Fahrani, 2019) Perlu adanya integrasi antara Organisasi dengan Leader agar karyawan dibawahnya merasa tetap aman. Dengan memakai VUCA yaitu Volatility (Bergejolak), Uncertainty (Ketidakpastian), Complexity (Kekacauan), Ambiguity (Kebiasan).

Salah satunhya agar perubahan/adaptasi ini dapat berjalan lancar dengan memakai salah satu alat dari Agility Enterprise dengan Three Critical Levers in Business Agility. Dalam Three Critical Levers  in Business Agility memiliki 3 bagian yaitu Membangun hal yang benar/tepat (Value), membangun yang dengan benar (quality) dan membangun dengan kecepatan yang sesuai. (Optimizing for the flow). Dalam Building the Right Thing (Value) terdapat dua hal penting yaitu pertama, Eksekusi yang artinya membangun produk yang menarik dan yag bernilai atau layak di gunakan oleh pelanggan namun tetap dalam biaya yang masuk akal bagi organisasi (perusahaan).

Sebagai Contoh dalam sebuah usaha yang ingin survive seperti produk Apple yang mana pada saat itu terancam bangkrut dan di selamatkan oleh Microsoft dikala Steve Jobs yang telah dipecat kemudian di rekrut kembali ke Apple pada tahun 1996. Kemudian, Apple mengeluarkan produk yang dapat diterima masyarakat dengan nama “Internet Macintiosh” atau iMac pada tahun 1998 dan ini merubah nasib perusahaan Apple yang tadinya hampir gulung tikar menjadi bangkit kembali dan sukses. Dari hal ini kita belajar bahwa apa yang dilakukan oleh perusahaan Apple adalah Build The Right Thing (membangun/menciptakan hal yang tepat). Hal yang tepat seperti apa? Hal yang tepat yang mampu memnuhi kebutuhan pelanggan dan mampu menjawab permasalahan yang ada pada masa itu.

Kemudian yang kedua, Eksplorasi yang maksudnya adalah melalui diferensiasi hingga inovasi produk dengan competitor lain dan memberikan nilai membuat organisasi akan bisa melewati masa krisis (Uncertainty) sebagai salah satu dari Era VUCA. Sebagai contoh, melalui produk terbaru Apple iMac pada saat itu produk ini melakukan perubahan dari segi penampilan dengan warna biru cerah dan meberikan benefit kepada calon pelanggan 3 in 1 yang mana pada saat itu belum ada produk seperti itu.

Selanjutnya beralih kepada Build The Thing Right (Membangun suatu hal dengan tepat). Maksudnya adalah membangun sebuah produk atau jasa atau solusi yang tepat dengan cara yang tepat/benar pula. Anda tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang sedang anda kerjakan jika tujuan dari produk/jasa/solusi yang anda berikan tidak dibangun dengan dasar intelektual, bahan yang benar dan lain sebagainya akan membuat apa yang anda bangun akan sia-sia.

Sebagai contoh, Dalam pembentukan solusi menanam tanaman dengan teknologi AI agar mampu mengkoordinasi setiap tanaman dengan baik dan mampu mendeteksi atau melakukan pekerjaannya kapan untuk menyiram, kapan waktu untuk memupuk dan kapan waktu untuk memanen memerlukan sistem koding yang tepat dan benar dengan bentuk dari alat atau sitem yang benar pula, dengan alat-alat yang benar pula agar apa yang anda harapkan terkait perkembangan alat tersebut dapat sesuaiu dengan apa yang diharapkan. Maka, disinilah peran penting SDM dalam membentuk dan bekerjasama agar produk yang anda buat dapat berjalan baik. Hal ini diperkuat dengan pendapat dari (Boyer-Kassem, Mayo-Wilson, and Weisberg, & eds., 2017) Sangat dibutuhkan kolaborasi agar cynefin tersebut dapat dilakukan dengan brainstorming bersama tim, membuat tujuan (visi), memberikan kesempatan untuk semua boleh berpendapat dan memberikan kesempatan bagi anggota untuk merefleksikan diri apakah yakin dengan kompetensi masing-masing. Dalam sebuah organisasi terdapat karyawan yang cepat dalam beradaptasi namun ada pula yang lamban dalam beradaptasi atau menerima perubahan (Mangundjaya, Psikologi dalam perubahan organisasi. Jakarta: Swascita Publication, 2016).

Kemudian, bagian yang tak kalah penting dari Build The Right Thing dan Buil the Thing Right adalah Build at the Right Speed. Maksud dari Build at the Right Speed adalah membangun solusi yang ada dengan waktu yang tepat dan sesuai dengan urgency-nya. Produk yang dibuat secara terburu-buru tanpa memperhatikan Build the Right Thing dan Build the Thing Right akan menghasilkan produk yang cacat secara kualitas maupun cacat secara fungsi. Sebalinya pula, bila produk yang dibuat dengan waktu yang terlalu lama akan tidak baik juga.produk yang terlalu lama prosesnya dan tidak sesuai dengan urgency-nya akan tertinggal dengan produk baru yang lebih fresh, lebih baik, lebih maju dan lebih menjawab permasalahan yang ada. Keterlambatan pembuatan produk ini akan menghasilkan kerugian pada perusahaan pula. Karena, masa trend yang ada pada saat itu telah berlalu.

Sebagai contoh, perusahaan Nokia dan BlackBerry (BB) mengalami penurunan penjualan dan diambang kebangkrutan akibat tidak mengikuti perubahan yang terjadi dengan munculnya sistem ponsel terbaru yang bernama Android. Nokia mengatakan bahwa telah memiliki Project Software sendiri dan menolak Andorid sebagai salah satu softwarenya. Dilansir dari inet.detik.com bahwa Nokia tidak mengindahkan usulan Risto Siilasma founder dari F-Secure bahwa Nokia seharusnya mengambil software Android saat itu dimana Iphone sendiri tekklah maju dengan operatying systemnya sendiri dan telah mengambil hati masyarakat karena produknya merupakan inovasi baru. Namun, Chairman Nokia saat itu menolak saran dari Risto. Hal hasil, seperti yang kita ketahui bahwa Nokia tidak memiliki pelanggan lagi dan BB pun sama. Hal ini karena tdiak mampu membaca Cynefin dan mengidentifikasinya serta lamban dalam membangun produk.

Bab 3

Kesimpulan

Dari pembahasan yang ada, dapat di simpulkan bahwa pentingnya untuk emlatih Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat mendorong perusahaan ke ararh yang elbih baik. Penting sekali untuk memahami apa yang sedang terjadi dan mengatisipasi apa yang akan terjadi dengan pemikiran yang terbuka dan mau untuk bekerjasama satu dengan yang lain tanpa mementingkan gengsi. Penting sekali untuk mengajarkan dan melakukan pelatihan kepada anggota organisasi melalui arahan pemimpin agar mereka menyadari bahwa terdapat banyak ketidaktahuan mereka untuk beberapa tahun terakhir akibat cepatnya berkembang dunia saat ini.

 

Pemimpin wajib memahami dan mampu berkolaborasi dalamtim atau organisasi untuk menuntun semua anggotanya kearah yang lebih baik dan cakap dalam menanggapi perubahan dan beradaptasi. Dari pengalaman Steve Job pada waktu ia berargumen dengan CEO Apple saat itu, tidak adanya keterbukaan dan kebesasn berpendapat yang diberikan oleh si CEO kepada Steve Job. Menurut (Boyer-Kassem, Mayo-Wilson, and Weisberg, & eds., 2017) Sangat dibutuhkan kolaborasi agar cynefin tersebut dapat dilakukan dengan brainstorming bersama tim, membuat tujuan (visi), memberikan kesempatan untuk semua boleh berpendapat dan memberikan kesempatan bagi anggota untuk merefleksikan diri apakah yakin dengan kompetensi masing-masing. Inilah ynag menjadi salah satu factor sebuah organisasi mengalami kemunduran dan tidak adanya pemeliharaan sumber daya yang baik.

Sumber Daya Manusia bukan sebagai alat yang terus menerus dieksploitasi dan diperas tenaganya. SDM adalah tim untuk bergerak bersama menuju kesuksesan dan melewati perubahan dan dinamika era VUCA ini. Dengan kita mempelajari VUCA, kita mampu untuk mengidentifikasikan apa yang sedang terjadi dalam dunai saat ini dan bagaimana peran sebagai oprganisasi untuk menghadapi perubahan tersebut guna keberlangsungan organisasi.

Pemahaman akan VUCA dari tiap SDM yang ada id organisasi akan memudahkan pergerakan karena semua memiliki pandangan yang sama terhadap sebuah situasi genting. Misalnya, suituasi pandemic Covid-19 saat ini dihadapai dengan pembuatan Vaksinasi yang tepat, dengan cara pembuatan yang tepat dan waktu yang tepat sehingga mampu membantu menyelesaikan permasalahan bukan hanya nasional namun global. Dari hal tersebut pula setelah kita mengidentifikasi masalah dengan mengkategorikannya menggunakan alat bantu Bernama Cynefin, kita mampu menyelesaikan masalah dengan tepat sasaran.

 

Kegunaan Three Critical Levers in Business Agility ynag telah disebutkan sebelumnya dengan membangun yang tepat, membangun dengan cara yang tepat dan mebuat dengan waktu yang tepat merupakan hal yang paling krusial saat ini. Seperti pembuatan vaksin untuk Covid-19 dan membentuk herd Imunity membutuhkan waktu yang cepat, dengan bahan yang tepat dan cara yang tepat agar mampu menolog milyaran manusia yang ada di dunia ini untuk terhindar dari penyakirt Covid-19 dan mengurangi angka kematian. Tentunya Three Critical Levers in Business Agility ini juga ada kaitannya dengan kehigenisan produ, apakah aman di gunakan, apakah halal dan sesuai dengan kaidah islam bagi yang beragama muslim dan apakah mampu untuk menyelasikan permaslaah yang terjadi.

Saran

Kuncinya adalah dengan memebntuk SDM dengan knowledge, skill, dan attitude. (Kemenko PMK Deputi Agus Sartono, 2021). Hal itu disebutkan beliau sebagai slah satu bentuk perhatiannya kepada SDM saat ini. Penting pula dari sejak dini dari masa bangku sekolah untuk mengajarkan anak-anak agar mampu mengidentifikasikan permasalahan yang ada pada saat ini guna mampu membuat mereka menjadi lebih kuat dari sebelumnya dan mampu untuk menyelsaikan permasalahan dikermudian hari. agar, kejadian yang tidak diiginkan yang terjadi pada masa lampau dan yang terjadi pada masa-masa sekarang ini tidak terjadi lagi untuk anka cucu kita dimasa mendatang karena mereka sudah terlatih untuk menghadapi hal tersebut.

 

Bukan bermaksud dan terkesan sebagai budak korporat atau hanya sebatas karyawan dalam sebuah perusahaan atau organisasi, namun menjadio entreporeneur dan pembuka lapangan pekerjaan sehingga setiap dari generasi setalah kita mampu survive dengan lebih mudah tanpa merassa terbebani dan merasa adanya penyesalan akibat tidak bisa mengidentifikasi masalah dengan VUCA atau mengkatergorikannya dengan Cynefin.

 

Pembelajaran di sekoalh ini lah yang perlu ditingkatkan bukan dengan menjadikan generasi penghapal, namun menjadikan generasi yang mampu menyelesaikan masalah. Caranya denga napa? Caranya dengan melatih terlebih dahulu mereka yang akan berinteraksi dengan calon SDM dimasa mendatang (guru) dengan mengisi Knowledge, Skill dan attitude mereka. sehingga meeka dapat menjadi contoh dan mampu meneruskannya kepada generasi muda selanjutnya.

Selain itu, untuk menjawab apay nag telah terjadi dengan karyawan atau SDM yang sudah ada saat ini, maka penting juga untuk terus mengedukasi mereka hal-hal baru agar mereka tdiak merasa menjadi orang yang paling tau di bidangnya namun mau untuk terus belajar dan terus untuk meng-upgrade diri menjadi lebih matang kedepannyas. Sayangnya, dalam masa apndemi seperti ini, banyak sekali Pgeawai negeri (ANS) di Indonesia hanya bekerja asal-asalana dengan membuat web simple dan kurnag mendukung untuk memberikan lapoiran apabila hendak mengajukan ke pihak pengadilan dan lain sebaganya. Ini disebabkan dngan budaya yang sudah lama mereka anut semenjak masa muda mereka atau (baby Boome) sehingga kurang relate dengan jaman sekarang yang membutuhkan User Experience yang baik dan User interface yang menarik. Kalau sudah tidak menarik akan mengalami ketertinggalan bukan?

 

References

Aribowo, H., & Wirapraja, A. (2018). Strategi Inovasi Dalam Rangka Menjaga Keberlanjutan Bisnis Dalam Menghadaou Era Volatility, Uncertainty, Compelxity, Dan Ambiguity (Vuca). Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan (JIMAT).

Boyer-Kassem, T., Mayo-Wilson, C., and Weisberg, M., & eds. (2017). Scientific Collaboration and Collective Knowledge: New Essays. New York: Oxford University Press, 240 pp.

Hasibuan, M. S. (2005). Analisa Pengaruh Disiplin Kerja dan Stress.

Hendrarso, P. (2020). nstitut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia di Perguruan Tinggi menuju Era VUCA :, 2-3.

Juhro, S. M. (2020). Transformational Leadership: Konsep, Pendekatan, dan Implikasi pada Pembangunan. © Bank Indonesia Institute.

Kemenko PMK. (2021, Agustus 26). kemenkopmk.go.id. Retrieved from Kunci Membangun SDM Unggul di Era VUCA: https://www.kemenkopmk.go.id/kunci-membangun-sdm-unggul-di-era-vuca

Kurtz, C., & Snowden. (2004). The new dynamics of strategy: Sense-making in a complex and complicated world. IBM: IBM Systems.

Mangundjaya, W. L. (2016). Psikologi dalam perubahan organisasi. Jakarta: Swascita Publication.

Mangundjaya, W. L. (2018). MEMBANGUN ORGANISASI YANG AGILE, 1.

Syah, A. F., & Fahrani, N. S. (2019). Rencana Suksesi Pegawai Negeri Sipil di Era VUCA. Civil Service VOL. 13, No.2, 7-8.

https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13691180902823845

https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/download/43267/pdf

https://www.researchgate.net/publication/339017974_Membangun_organisasi_yang_agile

shttps://tekno.kompas.com/read/2021/03/10/17020007/sejarah-apple-yang-tak-jadi-bangkrut-karena-microsoft?page=all#page2

 

 

 

Benny Samuel Sihombing 2301859606/MG Herlina