Milenial dan GIG Ekonomi di Era Industri 4.0
Di era digital seperti sekarang ini, teknologi merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Pasalnya, dengan adannya kemajuan teknologi yang semakin pesat hal ini dapat meningkakan efektifitas dan efisiensi dalam peningkatkan produktifitas serta daya saing yang tinggi. Namun, hal ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi praktik manajemen sumber daya manusia dalam organisasi. Dimana, hal tersebut tentunnya akan berkaitan dengan besarnya tuntutan pekerjaan yang memaksa perusahaan untuk memiliki sumber daya manusia (SDM) yang andal dan profesional di bidangnya atau dengan kata lain disebut sebagai on-demand worker atau buruh siap kerja. Peningkatan tersebut terjadi karena adannya faktor efisiensi biaya recruiment serta ide-ide baru yang lebih segar dihadirkan para gig workers. Sebelum masuk kepembahasan yang lebih lanjut, berikut dibawah ini merupakan penjelasan secara singkat mengenai gig economy.
Gig Economy merupakan suatu kondisi perekonomian yang terjadi karena adannya pergeseran status para pekerja perusahaan yang umumnya merupakan tenaga kerja tetap menjadi karyawan kontrak (short-term contrack), independent workers, maupun karyawan tidak tetap (temporary workers) atau dengan kata lain disebut sebagai on-demand worker atau buruh siap kerja. Yang mana Peningkatan tersebut terjadi karena adannya faktor efisiensi biaya recruiment serta ide-ide baru yang lebih segar dihadirkan para gig workers.
Para perusahaan seperti industri kreatif kelas menengah, startup bahkan kelas besar saat ini cenderung lebih menyukai atau menerapkan gig economy. Pasalnya hal ini dapat menguntungkan suatu perusahaan dari segi financial dimana mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk asuransi kesehatan, tunjangan hari raya, dan sebagiannya yang seharusnya mereka keluarkan untuk karyawan tetap. Serta biasanya, para pekerja freelancer atau gig workers cenderung lebih inovatif (memiliki ide-ide segar dan baru yang out of the box.) Sedangkan untuk freelancers atau gig workers manfaat yang di dapatkan antara lain seperti Fleksibilitas (waktu, peluang, prioritas, minat), Idealisme kerja yang lebih ‘bermakna’, gaji atau penghasilan yang lebih baik serta dapat meningkatkan kemampuan atau skill sehigga dapat bersaing di era yang semakin kompetitif saat ini.
Namun di samping itu, ternyata, terdapat pula kekurangan dari penetapan gig economy. Untuk perusahaan sendiri antara lain seperti kontrol yang lebih rendah terhadap pekerjaan atau proyek, rentan terhadap intervensi, mungkin mendapatkan pekerja yang kurang terampil dan memerlukan keterampilan manajemen yang tinggi. Sedangkan bagi freelance atau gig workers antara lain seperti tidak mendapatkan tunjangan kerja, pelatihan, kemungkinan besar kelelahan dan stress yang berkepanjangan, Kurangnya keamanan kerja, Persaingan ketat dan Kurangnya jalur karir.
Kesimpulan:
Menurut pendapat saya terkait dengan transformasi digital dan praktik manajemen sumber daya manusia dalam organisasi haruslah seiring serta sejalan dengan baik. Seperti dengan memikirkan serta mencari solusi yang tepat terkait dengan adanya kekurangan dalam proses penerapannya (bagaimana dari kekurangan tersebut justru menjadi peluang yang menguntungkan) serta gig economy bukanlah sesuatu hal yang baru, milenial dan gen Z merupakan tokoh utama dari gig economi pasalnya didalam gig economi menawarkan proses yang fleksibel. Namun, banyak dari mereka mengabaikan dampak atau kekurangan dari proses penerapan gig economi. Gig economi memang menawarkan banyak kemungkinan di masa depan tetapi bukan tanpa risiko yang jelas serta kemungkinan besar pemerintah akan mulai turun tangan, sehingga bisa terjadi kenaikan biaya operasional perusahaan.
Reference:
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/15/200900526/milenial-dan-gig-economy-di-era-industri-4.0?page=all
https://www.wartaekonomi.co.id/read221527/apa-itu-gig-economy