
BINUS Business School menyelenggarakan kegiatan Pengangkatan Advisory Board Periode 2026–2028 yang dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) Visi & Misi BINUS Business School pada Sabtu, 26 September 2026, bertempat di Kampus JWC, Senayan, Jakarta.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BINUS Business School untuk memperkuat hubungan antara dunia akademik dan industri, sekaligus memperoleh perspektif strategis dari para pemimpin bisnis mengenai kompetensi lulusan, perkembangan dunia usaha, serta arah pendidikan bisnis di masa depan.
Advisory Board periode 2026–2028 terdiri dari para profesional dan pemimpin dari berbagai sektor industri, mulai dari perbankan, teknologi, manufaktur, sustainability, media, pertambangan, logistik, finansial, kesehatan, e-commerce, hingga retail.
Menghubungkan Pendidikan Bisnis dengan Kebutuhan Industri
Dalam diskusi, salah satu isu utama yang mengemuka adalah pentingnya menggeser orientasi pendidikan tinggi dari sekadar job-ready menjadi future-ready. Lulusan tidak hanya diharapkan mampu memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menciptakan peluang di tengah perubahan industri dan perkembangan teknologi.
Dari perspektif Human Resources, Bu Titis Yurina menekankan pentingnya diferensiasi kompetensi lulusan pada tiga area utama, yaitu bisnis, teknologi, dan leadership. Perguruan tinggi juga perlu mengidentifikasi serta mengembangkan mahasiswa yang memiliki potensi sebagai future leader melalui kurikulum yang terus disesuaikan dengan kebutuhan industri.
Sementara itu, Pak Danang Canyono menyoroti pentingnya empati dan kemampuan memahami permasalahan sebagai fondasi dalam menciptakan peluang bisnis. Mahasiswa perlu dibiasakan untuk mengidentifikasi masalah nyata yang dihadapi masyarakat maupun industri, kemudian merumuskan solusi yang relevan dan memberikan dampak.
Perspektif lain disampaikan oleh Pak Haryanto Budiman yang memperkenalkan konsep career immunity, yaitu kemampuan individu untuk tetap relevan dan menciptakan peluang ketika menghadapi perubahan karier, disrupsi teknologi, maupun dinamika organisasi. Leadership exposure, work ethic, networking, stakeholder management, mentorship, dan resilience menjadi sejumlah kompetensi yang perlu dibangun sejak masa perkuliahan.
Dari Knowledge Transfer Menuju Capability Building
Diskusi juga menyoroti perubahan peran universitas, dari sekadar mentransfer pengetahuan menjadi capability builder. Pendidikan bisnis perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, merumuskan pertanyaan yang tepat, menganalisis masalah, mengambil keputusan, berkolaborasi, dan belajar secara mandiri.
Salah satu pendekatan yang dibahas adalah The Art of Asking, yaitu membangun kebiasaan mahasiswa untuk mempertanyakan asumsi, memahami akar permasalahan, serta mengeksplorasi berbagai perspektif sebelum mengambil keputusan.
Selain itu, perkembangan artificial intelligence (AI) turut memperkuat kebutuhan akan kompetensi seperti critical thinking, problem solving, data literacy, AI literacy, collaboration, innovation, entrepreneurship, serta kemampuan melakukan human judgment dalam situasi yang kompleks.
Memperkuat Ekosistem Pembelajaran melalui Kolaborasi Industri
Untuk mendukung pengembangan kompetensi tersebut, Advisory Board juga menyoroti pentingnya ekosistem pembelajaran yang melampaui ruang kelas. Kolaborasi dengan industri dapat diwujudkan melalui internship, industry project, applied research, guest lecture, company visit, business case competition, serta mentoring dari praktisi.
Penguatan kolaborasi dengan perusahaan dan pelaku bisnis di sekitar lokasi kampus juga menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan. Melalui pendekatan ini, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman langsung dalam memahami tantangan bisnis nyata sekaligus membangun hubungan dengan ekosistem industri di wilayahnya.
Budaya coaching dan mentoring secara one-on-one, yang melibatkan alumni, senior, fresh graduate, asisten dosen, dan praktisi industri, turut menjadi perhatian. Pendampingan tersebut dapat membantu mahasiswa memperoleh feedback personal, mengenali potensi diri, serta mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.
Peran Strategis Advisory Board bagi BINUS Business School
Keterlibatan Advisory Board diharapkan dapat menjadi jembatan yang semakin kuat antara kebutuhan industri dan pengembangan pendidikan bisnis di BINUS Business School.
Peran tersebut mencakup pemberian perspektif industri terhadap kurikulum, pembukaan akses kolaborasi, evaluasi berkala terhadap perubahan kebutuhan kompetensi, serta membawa real business problems ke dalam proses pembelajaran.
Melalui kegiatan ini, BINUS Business School memperoleh berbagai masukan strategis untuk memperkuat arah pengembangan pendidikan yang adaptif terhadap perubahan, relevan dengan kebutuhan industri, dan berorientasi pada pembentukan kapabilitas jangka panjang.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bisnis tidak hanya diukur dari pengetahuan yang diperoleh mahasiswa, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk terus belajar, memahami permasalahan, beradaptasi, dan menciptakan dampak di tengah dinamika dunia bisnis.
Advisory Board BINUS Business School Periode 2026–2028:
- Matilda Esther Rotinsulu – Chief of Corporate Human Capital Development, Astra International Tbk
- Haryanto Budiman – Managing Director, BCA
- Prana Prakash – Owner, Thrive
- Alistair Speirs OBE – Commissioner, MVB
- Pambudi Soenarsihanto – HR Director, Mind.id
- Berti Andiarti – CEO, Mostrans Logistic
- Titis Yurina – HR Director, Sinar Mas Multi Arta
- Sutoto – Ketua Eksekutif, Komisi Akreditasi Rumah Sakit
- Danang Canyono – COO, Circlo
- Sandra Hardjana – HC Director, Kawan Lama
- Gunawan Susanto – Managing Director, Microsoft Indonesia
