Ketika Semua Ingin Didengar, Tapi Sedikit yang Mau Mendengarkan

Coba ingat terakhir kali kamu benar-benar merasa didengarkan.
Bukan sekadar orang mengangguk sambil sesekali berkata “iya”, tapi benar-benar hadir, fokus, dan memahami apa yang kamu sampaikan.

Tidak mudah, kan?

Di dunia kerja hari ini, hampir semua orang sibuk bicara. Di meeting, di chat grup, di email panjang yang ingin cepat dibalas. Tapi justru di tengah banjir komunikasi itu, kemampuan mendengarkan menjadi barang langka. Padahal, listening skill adalah salah satu soft skill paling mahal—karena dampaknya besar dan tidak semua orang memilikinya.

 

Mendengar Itu Mudah, Mendengarkan Itu Skill

Banyak orang merasa sudah mendengarkan, padahal sebenarnya hanya menunggu giliran bicara.
Mata memang mengarah ke pembicara, tapi pikiran sibuk menyiapkan jawaban, pembelaan, atau bahkan penilaian.

Listening skill—atau active listening—berbeda. Ia menuntut kehadiran penuh. Kita tidak hanya menangkap kata-kata, tapi juga nada suara, jeda, emosi, dan konteks di baliknya. Dalam praktiknya, ini berarti menunda ego dan keinginan untuk langsung memberi solusi.

Inilah yang membuat listening skill terasa “mahal”. Ia sederhana secara konsep, tapi sulit secara praktik.

 

Bagaimana Kurangnya Listening Skill Mengganggu Pekerjaan Sehari-hari

Bayangkan sebuah meeting tim.
Seorang anggota tim mencoba menjelaskan kendala proyek. Baru setengah jalan, atasan langsung memotong dengan solusi cepat. Meeting selesai lebih cepat, semua terlihat efisien.

Tapi dua minggu kemudian, masalah yang sama muncul lagi.

Kenapa? Karena masalah awalnya tidak pernah benar-benar dipahami. Yang didengar hanya permukaannya.

Situasi seperti ini sering terjadi—bukan karena orang tidak kompeten, tapi karena mendengarkan dianggap membuang waktu. Padahal, waktu yang “dihemat” di awal sering dibayar mahal di belakang lewat miskomunikasi, konflik, dan kerja ulang.

 

Listening Skill dan Kepemimpinan: Hubungan yang Tidak Terpisahkan

Banyak orang mengira pemimpin hebat adalah mereka yang paling pintar bicara. Faktanya, pemimpin yang benar-benar dipercaya justru sering dikenal sebagai pendengar yang baik.

Ketika seorang leader mau mendengarkan tanpa menghakimi, tim merasa aman untuk bicara. Masalah muncul lebih awal. Ide berkembang lebih bebas. Konflik lebih mudah dikelola karena orang merasa dipahami, bukan diserang.

Listening skill di sini bukan sekadar etika, tapi alat kepemimpinan strategis.

 

Mengapa Kita Sulit Mendengarkan?

Bukan karena kita tidak mau, tapi karena:

  • Kita terbiasa multitasking
  • Kita merasa harus selalu cepat memberi jawaban
  • Kita takut terlihat tidak tahu
  • Kita membawa asumsi dan pengalaman masa lalu ke setiap percakapan

Semua ini membuat kita lebih sibuk merespons daripada memahami.

 

Melatih Listening Skill dalam Kehidupan Nyata

Listening skill tidak dilatih lewat teori panjang, tapi lewat kesadaran kecil sehari-hari.
Misalnya, berani diam sejenak sebelum menjawab. Atau mengulang apa yang kita dengar untuk memastikan pemahaman. Atau menyadari kapan emosi kita mulai mengambil alih percakapan.

Latihan kecil ini perlahan mengubah kualitas interaksi kita—di kantor maupun di luar.

Listening skill mungkin tidak terlihat di CV, tapi dampaknya terasa di mana-mana. Ia memperbaiki komunikasi, memperkuat hubungan kerja, dan menjadi fondasi kepemimpinan yang matang.

Coba minggu ini, latihan dengan mendengarkan satu orang sampai selesai—tanpa menyela, tanpa menyiapkan jawaban. Lalu, perhatikan apa yang berubah.

 

Referensi:

  • Active Listening – Wikipedia
  • Woliba – Importance of Active Listening in the Workplace
  • PlanetSpark – Importance of Listening as a Core Soft Skill
  • SLM MBA – Effective Listening for Professional Success