{"id":841,"date":"2018-04-20T09:14:20","date_gmt":"2018-04-20T02:14:20","guid":{"rendered":"http:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/?p=841"},"modified":"2018-04-20T09:14:20","modified_gmt":"2018-04-20T02:14:20","slug":"disruption-is-no-exist-isnt-it","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/2018\/04\/disruption-is-no-exist-isnt-it\/","title":{"rendered":"Disruption is No Exist.  Isn\u2019t it?"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. Ir. Harry Sutanto, MBA<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>\u201cMengapa semua berpikir bahwa saat ini adalah era disruption?\u00a0 Karena kami (para generasi muda tidak memandang adanya fenomena disruption tersebut \u201d?<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pertanyaan dan pernyataan tersebut diajukan oleh seorang mahasiswa yang cerdas dan kritis, dan memandang bahwa perilaku dan gaya hidup para generasi muda saat ini adalah bergerak dengan cepat (<em>moving fast)<\/em> yang memudahkan untuk mempelajari pengetahuan baru dan akses tanpa batas terhadap banyak hal yang mendisrupsi pola perilaku generasi yang lebih tua (<em>older generation<\/em>).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Secara definisi, <em>disruption <\/em>disebut sebagai \u201c<em>an interruption in the usual way that a system, process or event works\u2019<\/em>, namun dalam perspektif teknologi, <em>disruption has become a buzzword that is overused and very often misused<\/em>. \u00a0\u00a0Sehingga setiap individu dengan bebas mengemukakan pemahaman dan definisinya mengenai <em>disruption<\/em>, dan pernyataan\/pernyataan tersebut di atas adalah refleksi pertanyaan mendasar bagaimana <em>disruption<\/em> tersebut dimaknai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Walaupun Esteban Conterras (2014) berpendapat bahwa disrupsi adalah kenormalan baru (<em>new normal<\/em>) karena sudah menjadi kenormalan bahwa bisnis sangat terkait dengan siklus hidup <em>(life cycle<\/em>) yang suatu saat harus rela digantikan oleh bentuk bisnis (<em>business models<\/em>) yang lebih efisien, kreatif dan gesit.\u00a0 \u00a0Konsumen akan termanjakan oleh berbagai pilihan yang lebih banyak dari kebutuhannya, yang sulit untuk dibedakan satu sama lainnya karena masing-masing dengan keunggulan yang unik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam era \u201cdisrupsi\u201d seperti saat ini, kecepatan disrupsi tersebut akan semakin cepat dan semakin sering terjadi.\u00a0\u00a0 Secara harfiah, disrupsi benar-benar dipandang suatu gangguan terhadap seluruh sendi kehidupan karena tidak ada suatu bentuk keakhlian, ilmu ataupun business model yang akan bertahan lama.\u00a0 Dan dari perspektif teoritis, dinyatakan bahwa \u00a0dalam era disrupsi \u2018<em>outstanding companies can do everything right and still lose their market leadership, or even fail, as unexpected competitors rise and take over the market\u2019<\/em>. \u00a0Hal tersebut melahirkan suatu pandangan yang <em>counter-rational<\/em> dan mekanisme di dalam pasar dimana perusahaan dengan manajemen yang sangat baik, mendengarkan aspirasi konsumen melakukan penelitian dan pengembangan secara baik, tetap berpotensi untuk gagal.\u00a0 Keberlanjutan bisnis (<em>business sustainability<\/em>) menjadi suatu hal yang sulit untuk dicapai karena tidak ada satupun pihak atau bentuk bisnis (<em>business conduct<\/em>) yang dapat digunakan sebagai suatu platform bisnis (<em>business platform<\/em>) untuk jangka panjang,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Terdapat pula pandangan negatif yang menyatakan bahwa disruption menghancurkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, seperti adat istiadat, norma, sopan santun, etika dan bahkan budaya.\u00a0 Sehingga kesinambungan hidup berbangsa pun menjadi suatu bahan keraguan tinggi karena dikhawatirkan akan terlahir suatu era dengan individualisme yang tinggi dan ketidakacuhan sosial yang tinggi pula<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Adalah menjadi suatu keniscayaan, bahwa harus terdapat suatu kesamaan sudut pandang dan langkah untuk mengatasinya, baik di antara lintas generasi, strata sosial, level pendidikan maupun kelompok masyarakat tentang <em>disruption.<\/em>\u00a0 Dari sudut pandang tertentu, disruption dimaknai sebagai suatu kesempatan besar untuk menjalani kehidupan yang lebih modern dengan segala kemudahan dan akses tanpa batas namun dalam perspektif lainnya, disruption sebagai suatu perubahan fundamental eksponensial akan benar-benar melahirkan suatu ketidakpastian dalam menjalani kehidupan maupun berbisnis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Adalah menjadi suatu harapan pula, akan terbentuk suatu keseimbangan dinamis (<em>dynamic equilibrium<\/em>) tentang pemaknaan dan sikap menghadapi era <em>disruption<\/em>, baik dari tatanan kehidupan bermasyarakat maupun berbisnis.\u00a0\u00a0 Sehingga akan terbentuk masyarakat dan bangsa yang lebih dewasa, siap dan padu (<em>solid<\/em>) dalam menghadapi takaran perubahan seberapapun kuat dan ekstrimnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. Ir. Harry Sutanto, MBA \u201cMengapa semua berpikir bahwa saat ini adalah era disruption?\u00a0 Karena kami (para generasi muda tidak memandang adanya fenomena disruption tersebut \u201d? Pertanyaan dan pernyataan tersebut diajukan oleh seorang mahasiswa yang cerdas dan kritis, dan memandang bahwa perilaku dan gaya hidup para generasi muda saat ini adalah bergerak dengan cepat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[7,12,43,10,8,41],"class_list":["post-841","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article","tag-bbs","tag-digital","tag-disruptive","tag-e-business","tag-management","tag-manajemen"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/841","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=841"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/841\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":843,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/841\/revisions\/843"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=841"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=841"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=841"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}