{"id":831,"date":"2018-04-17T13:18:42","date_gmt":"2018-04-17T06:18:42","guid":{"rendered":"http:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/?p=831"},"modified":"2018-04-17T13:18:42","modified_gmt":"2018-04-17T06:18:42","slug":"leader-could-be-a-rebel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/2018\/04\/leader-could-be-a-rebel\/","title":{"rendered":"Leader Could Be a Rebel?"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : Dr.Ir. Harry Sutanto, MBA<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>\u201cApakah seorang pemimpin dapat menjadi seorang pemberontak (rebel)\u201d?<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pertanyaan tersebut diajukan oleh salah seorang mahasiswa yang cerdas di salah satu kelas dan tentunya menarik untuk disimak dan menjadi suatu telaahan khusus, ditinjau dari berbagai perspektif dan dimensi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada dasarnya kepemimpinan merupakan suatu proses untuk memberikan inspirasi dan motivasi kepada seluruh jajaran di dalam tanggungjawabnya, agar bekerja dengan sebaik-baiknya untuk mencapai hasil yang diharapkan.\u00a0 Karena itu, terdapat dua peran penting yang dimiliki oleh pemimpin yaitu a) menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya dan kelompoknya; dan b) menjaga hubungan yang efektif di antara dirinya dengan anggota kelompok maupun di antara anggota kelompoknya sehingga menghasilkan suatu kontribusi positif pada penyelesaian tugas.\u00a0 John C. Maxwell (The 360 Degree Leader, 2005) mensyaratkan karakter kuat dan kredibilitas tinggi pada diri pemimpin untuk mampu melaksanakan peran kepemimpinannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sementara pemberontak (rebel) secara umum dimaknai sebagai suatu penolakan atau pembangkangan terhadap otoritas, kemapanan maupun status-quo yang dinilai merugikan, menghambat aspirasi atau gerak maju dari kelompok, komunitas maupun masyarakat tempat pemberontak (rebel) tersebut berasal.\u00a0\u00a0 Tujuan gerakan pemberontakan tersebut adalah menuntut keadilan <em>(justice<\/em>) atas hal-hal yang diperjuangkannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam perjalanan pengelolaan perusahaan, seringkali pemimpin perusahaan menemukan hal-hal yang menjadi hambatan (<em>obstacles<\/em>) dalam pencapaian tujuan, khususnya dalam era disruptif yang semakin berkembang dari waktu ke waktu.\u00a0 Tuntutan dan kondisi bisnis semakin berkembang dinamis, yang menuntut suatu responsivitas tindakan segera yang dalam berbagai hal berpotensi bertentangan dengan rencana awal maupun kerangka pencapaian tujuan yang telah disepakati semula di antara <em>top management<\/em> dengan <em>shareholders<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Karena itu, pertanyaan dan sekaligus pernyataan pokok di atas, dapat difahami dan diakseptasi sepanjang tindakan pemimpin sebagai pemberontak (<em>rebel<\/em>) tersebut dalam kerangka situasional dalam menghadapi tuntutan bisnis yang semakin dinamis.\u00a0 Kebijakan dan tindakan situasional tersebut adalah untuk memanfaatkan momentum bisnis (<em>business momentum<\/em>) yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tindakan pemimpin tersebut, sebagai refleksi \u201c<em>do the right things<\/em>\u201d tersebut tentunya harus dipertanggungjawabkan kepada seluruh <em>stakeholders<\/em>, untuk membuktikan bahwa tidak ada suatu benturan kepentingan (<em>conflict of interest<\/em>) yang melandasi kebijakan dan tindakan yang dilakukan.\u00a0 Dan bahkan dalam perspektif yang lebih luas, kebijakan yang mungkin semula dipandang menyimpang tersebut, akan dapat menjadi suatu panduan kepemimpinan selanjutnya dalam menghadapi ketidakpastian bisnis (<em>business uncertainty)<\/em> yang semakin tajam dari waktu ke waktu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Dr.Ir. Harry Sutanto, MBA \u201cApakah seorang pemimpin dapat menjadi seorang pemberontak (rebel)\u201d? Pertanyaan tersebut diajukan oleh salah seorang mahasiswa yang cerdas di salah satu kelas dan tentunya menarik untuk disimak dan menjadi suatu telaahan khusus, ditinjau dari berbagai perspektif dan dimensi. Pada dasarnya kepemimpinan merupakan suatu proses untuk memberikan inspirasi dan motivasi kepada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[7,42,8,41],"class_list":["post-831","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article","tag-bbs","tag-leadership","tag-management","tag-manajemen"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/831","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=831"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/831\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":832,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/831\/revisions\/832"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=831"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=831"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=831"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}