{"id":829,"date":"2018-04-17T13:14:56","date_gmt":"2018-04-17T06:14:56","guid":{"rendered":"http:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/?p=829"},"modified":"2018-04-17T13:14:56","modified_gmt":"2018-04-17T06:14:56","slug":"ethics-in-the-most-disrupted-era","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/2018\/04\/ethics-in-the-most-disrupted-era\/","title":{"rendered":"Ethics in the Most Disrupted Era"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : Dr. Ir Harry Sutanto, MBA<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>\u201cMungkinkah dalam masa depan dengan ketiadaan etika sama sekali, umat manusia akan mampu mencapai keberhasilan yang tidak terbayangkan sebelumnya\u201d?<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pertanyaan tersebut diajukan oleh salah seorang peserta pelatihan yang cerdas dari salah satu institusi dan tentunya menarik untuk disimak dan menjadi suatu telaahan khusus, ditinjau dari berbagai perspektif dan dimensi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Etika atau filsafat moral adalah cabang filsafat yang melibatkan sistematisasi, pembelaan, dan rekomendasi konsep perilaku benar dan salah.\u00a0 Etika berusaha untuk menyelesaikan pertanyaan moralitas manusia dengan mendefinisikan konsep-konsep seperti baik dan jahat, benar dan salah, kebajikan dan kejahatan, keadilan dan kejahatan. \u00a0\u00a0Sedangkan <em>disruption<\/em> sejatinya mengubah, bukan hanya cara berbisnis melainkan juga fundamental bisnisnya, sejak dari struktur biaya, budaya dan bahkan teknologi industri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Terdapat kesamaan (<em>similarities<\/em>) dari <em>positioning <\/em>etika dengan disruption, khususnya dalam dimensi waktu implementasinya.\u00a0 <em>Disruption<\/em> bukan sekedar fenomena hari ini (<em>today<\/em>) melainkan juga fenomena hari esok (<em>future<\/em>) yang dibawa oleh para pembaharu ke saat ini, hari ini (<em>present<\/em>).\u00a0 Dan etika pun sebenarnya bukan merupakan suatu nilai statis melainkan dinamis, bergerak bersama waktu, menyesuaikan dengan perkembangan norma dan nilai sebagai akibat gelombang perubahan yang terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Terdapat sebagian masyarakat yang tengah berada dalam kondisi gamang (<em>confused<\/em>) karena secara tiba-tiba berada dalam peradaban baru (<em>the new ages<\/em>) sebagai dampak kondisi disrupsi yang tiba-tiba terputus begitu saja (<em>a trend break<\/em>) (Rhenald Kasali, 2015).\u00a0 Terjadi suatu perubahan tatanilai, norma dan kebiasaan yang membentuk budaya baru yang dalam berbagai hal berbeda sama sekali dengan budaya lama yang berada di dalam masyarakat untuk waktu lama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Namun apakah benar etika tidak lagi diperlukan dalam kondisi disrupsi yang hebat (<em>the most disrupted era<\/em>).\u00a0 Etika telah menjadi sebuah perangkat yang usang (<em>obsolete<\/em>) yang tidak lagi diperlukan karena berpotensi menghambat gerak langkah maju dari bisnis dan masyarakat modern.\u00a0 Bahkan suatu ketakutan besar telah timbul, bahwa peradaban tidak lagi diperlukan karena perangkat yang mendasarinya (nilai, norma, kesantunan dll) sudah digantikan dengan suatu penilaian berdasarkan ukuran kemajuan fisik belaka.\u00a0 Seolah dengan ketidakberadaan etika akan melahirkan suatu kemajuan tanpa batas, sebagamana pertanyaan dan sekaligus pernyataan dari peserta pelatihan tersebut di atas..<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kekhawatiran tersebut, ternyata tidak terbukti seluruhnya, <em>Disruption<\/em>, sebenarnya hanya merupakan perubahan tatakelola berkehidupan sehingga menjadi lebih efisien, hemat dan ringkas; tetapi tidak untuk menggantikan peran manusia sebagai filsuf, pemikir (<em>thinker<\/em>), perancang <em>(designer)<\/em> dan hal-hal kemanusiaan lain yang tidak dapat digantikan oleh mesin atau robot.\u00a0 Tidak dimungkinkan peran manusia, dengan keunggulannya sebagai pelaku utama kehidupan, dapat digantikan oleh mesin, robot atau sistem yang hanya mereplikasi dan melaksanakan pekerjaan secara rutin atau berulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bukti (<em>evidence<\/em>) akan tetap atau semakin bertambahnya peran manusia telah banyak dibuktikan dengan tingginya kerinduan manusia terhadap nilai-nilai luhur keluarga.\u00a0\u00a0 Kemajuan peradaban tidak dinilai dengan tingginya taraf hidup, tata kehidupan yang ultra modern; tetapi lebih ditekankan pada tingginya nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki suatu masyarakat khususnya etika yang mengatur pola kehidupan dan interaksi sesama manusia.\u00a0 Tetapi tentunya nilai-nilai etika tersebut tetap harus disesuaikan dengan kemajuan peradaban, dalam suatu keseimbangan (equilibrium) di atara nilai-nilai dan norma-norma lama dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berkembang muncul selanjutnya.\u00a0 Dengan demikian, etika akan mampu diakseptasi seluruh masyarakat dengan baik dan tetap dipandang sebagai penyatu dan identitas kelompok, masyarakat dan bangsa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Dr. Ir Harry Sutanto, MBA \u201cMungkinkah dalam masa depan dengan ketiadaan etika sama sekali, umat manusia akan mampu mencapai keberhasilan yang tidak terbayangkan sebelumnya\u201d? Pertanyaan tersebut diajukan oleh salah seorang peserta pelatihan yang cerdas dari salah satu institusi dan tentunya menarik untuk disimak dan menjadi suatu telaahan khusus, ditinjau dari berbagai perspektif dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[7,40,8,41,35],"class_list":["post-829","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article","tag-bbs","tag-ethics","tag-management","tag-manajemen","tag-technology"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/829","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=829"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/829\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":830,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/829\/revisions\/830"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=829"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=829"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=829"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}