{"id":80,"date":"2017-03-08T15:13:22","date_gmt":"2017-03-08T08:13:22","guid":{"rendered":"http:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/?p=80"},"modified":"2017-03-08T15:13:22","modified_gmt":"2017-03-08T08:13:22","slug":"dunkin-donuts-case-study","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/2017\/03\/dunkin-donuts-case-study\/","title":{"rendered":"DUNKIN DONUTS CASE STUDY"},"content":{"rendered":"<header class=\"header-block\">\n<h1 class=\"the-h1 multi-line\"><\/h1>\n<\/header>\n<div class=\"wp-content clear main-read the-640\">\n<p>Salah satu Perusahaan Multinasional yang bergerak di bidang kafe ataupun gerai-gerai pangan adalah\u00a0Dunkin\u2019 Donuts,\u00a0atau yang lebih akrab disingkat dengan sebutan DD. Dunkin\u2019 Donuts sendiri mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1985, dengan gerai pertamanya di Jl. Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Sebenarnya, Dunkin\u2019 Donuts bukan merupakan perusahaan donut multinasional pertama yang masuk ke Indonesia.\u00a0 Di tahun 1968, American Donut merupakan perintis donat pertama yang digoreng dengan mesin otomatis di Pekan Raya Jakarta. Selain membuka gerainya di\u00a0 pekan raya,\u00a0 American Donut juga membuka gerainya di berbagai tempat di Jakarta. Selain itu, masih ada perusahaan-perusahaan multinasional donut lainnya yang juga berusaha mengimbangi gerak Dunkin\u2019 Donuts, seperti Country Style Donuts asal Kanada, Donuts Xpress asal Australia, Krispy Kreme yang juga berasal dari AS, serta masih banyak lagi perusahaan-perusahaan donut lainnya.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, Dunkin\u2019 Donuts-lah yang dinilai paling berhasil dalam meluaskan jaringan pasarnya di Indonesia, bahkan di dunia. Dunkin\u2019 Donuts telah berhasil membuka lebih dari 8.800 gerai\u00a0 donatnya di lebih dari 35 negara di berbagai benua. Di Indonesia sendiri Dunkin\u2019 Donuts telah membuka 200 gerai lebih di kota-kota besar di seluruh Indonesia, seperti Medan, Yogyakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Makassar, Jakarta, dan kota-kota lainnya di Indonesia. Dunkin\u2019Donuts telah berhasil menjadi model dalam hal pelayanan serta konsep gerai yang dimilikinya. Bahkan Dunkin\u2019Donuts terkadang dianggap sebagai bayang-bayang bagi perusahaan donut lainnya. Di Jogjakarta, Dunkin\u2019 Donuts telah merambah ke mall-mall, swalayan serba ada, jalan-jalan di malioboro, hingga ke bookstore-bookstore seperti Gramedia.<\/p>\n<p>Kembali kepada isu mengenai MNC\u00a0yang mengundang banyak polemik dari berbagai kalangan, terutama mengenai kehadirannya di Negara-Negara Dunia Ketiga. Perusahaan-perusahaan Multinasional dianggap sebagai ancaman bagi usaha-usaha lokal di negara tempat ia berada. Namun, meskipun demikian, pemerintah negara-negara tersebut tetap saja saling berlomba-lomba\u00a0(bidding wars)\u00a0untuk menarik investor agar mau menanamkan modalnya di negara mereka dalam bentuk\u00a0Foreign Direct Investment.Kehadiran MNC\u00a0terkadang memang membawa keuntungan dan kerugian. Hal inilah yang menjadi perdebatan antara pihak-pihak yang pro dan kontra atas kehadiran Perusahaan Multinasional di negara mereka.<\/p>\n<p>Pihak yang kontra berpendapat bahwa Perusahaan Multinasional dalam praktiknya membawa lebih banyak kerugian daripada keuntungan bagi negara mereka. Salah satu isu yang paling kontroversial mengenai kehadiran MNC\u2014terutama di negara-negara berkembang\u2014adalah isu mengenai\u00a0outsourcing.\u00a0Selain itu,\u00a0terkadang\u00a0kedaulatan nasioal juga tergadaikan dengan adanya upaya MNC untuk masuk ke dalam negara tersebut. Upaya alih teknologi yang pada mulanya diisukan sebagai keunggulan dari masuknya perusahaan multinasional di negara-negara berkembang ternyata tidak terbukti. Di samping itu, masih banyak lagi reaksi-reaksi negatif lainnya yang bermunculan akibat masuknya perusahaan multinasional di negara-negara dunia ketiga.<\/p>\n<p>Namun, terkadang orang menjadi lupa bahwa kehadiran Perusahaan Multinasional sebenarnya tidak hanya membawa dampak yang negatif saja bagi negara penerima. Selain membawa modal asing dan pemasukan berupa pajak, MNC sebenarnya juga membawa dampak positif lainnya. Perbincangan mengenai MNC tidak akan berkembang jika hanya mengenai dampak negatif yang dibawa oleh MNC saja. Kehadiran MNC sebenarnya bisa menjadi stimulus bagi berkembangnya usaha-usaha lokal sejenis yang ada bagi negara penerima. Salah satu contoh kasus yang disajikan dalam tulisan ini adalah kehadiran Dunkin\u2019Donuts yang memacu hadirnya usaha-usaha donut lokal seperti J.CO, I-Crave, Java Donut, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p>Dengan menggunakan studi kasus yang ada, tulisan ini diarahkan untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut: \u201cBagaimana masuknya Dunkin\u2019Donuts di Indonesia?\u201d Apa dan bagaimana pengaruh kehadirannya di Indonesia? Serta bagaimana dampak Dunkin\u2019Donuts terhadap pertumbuhan dan perkembangan usaha-usaha lokal?\u201d\u00a0 Dengan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, tulisan ini berusaha memberikan pemikiran yang positif bahwa kesempatan untuk memperoleh keuntungan Ekonomi-Politik Internasional melalui kegiatan\u00a0Multinational Corporations\u00a0tidak hanya dimiliki oleh negara-negara ekonomi maju. Akan tetapi, negara-negara berkembang juga dapat mengupayakan hal yang sama melalui MNC.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>MASUKNYA DUNKIN\u2019 DONUTS DI INDONESIA<\/strong><\/p>\n<p>Dunkin\u2019Donuts pertama kali masuk ke Indonesia melalui Penanaman Modal Asing Langsungnya dengan membuka perusahaan pertamanya di Jakarta. Dunkin\u2019 Donuts sebelumnya juga telah membuka cabang-cabangnya (franchise) di berbagai negara, seperti negara-negara di Eropa.<\/p>\n<p>Sebelumnya, dengan mengacu pada UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, mari kita lihat terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan penanaman modal asing: \u201cPengertian penanaman modal asing di\u00a0dalam undang-undang ini hanyalah meliputi penanaman modal asing secara langsung yang dilakukan \u2026 berdasarkan ketentuan-ketentuan undang-undang \u2026. dan yang digunakan untuk menjalankan Perusahaan di Indonesia\u2026\u201dSedangkan yang dimaksud dengan Modal Asing dalam undang-undang tersebut adalah: \u201cAlat pembayaran luar negeri yang tidak merupakan bagian dari kekayaan devisa Indonesia, yang dengan persetujuan Pemerintah digunakan untuk pembiayaan Perusahaan di Indonesia.\u201d \u00a0Salah satu bentuk pembiayaan yang dilakukan oleh Perusahaan Multinasional di Indonesia adalah dalam bentuk pajak\u00a0(taxation).<\/p>\n<p>Dunkin\u2019Donuts pada mulanya tumbuh dan berkembang di kota Boston, Amerika Serikat pada tahun 1940 (dengan nama awal Open Kettle). Kemudian perusahaan ini terus tumbuh dan berkembang hingga akhirnya pada tahun 1970, Dunkin\u2019Donuts telah berhasil menjadi perusahaan dengan merek internasional. Kemudian pada tahun 1983 perusahaan Dunkin\u2019Donuts dibeli oleh Domecq Sekutu\u00a0(Allied Domecq)\u00a0yang juga membawahi\u00a0Togo\u2019sdan\u00a0Baskin Robins. Di bawah\u00a0\u00a0Allied Domecq,\u00a0perluasan pasar Dunkin\u2019Donuts secara internasional semakin diintensifkan. Hingga akhirnya gerai Dunkin\u2019Donuts tersebar tidak hanya di benua Amerika saja, tetapi juga meluas ke benua-benua seperti\u00a0 Eropa dan Asia.<\/p>\n<p>Di Indonesia sendiri, Dunkin\u2019 Donuts mulai merambah pasarnya pada tahun 1985 dengan gerai pertama didirikan di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Khusus wilayah Indonesia, master franchise Dunkin\u2019Donuts dipegang oleh Dunkin\u2019 Donuts Indonesia. Saat pertama kali Dunkin\u2019Donuts membuka gerai pertamanya di Indonesia (pada tahun 1980-an), tidak ada reaksi keras dari masyarakat yang menentang perusahaan tersebut untuk masuk. Masyarakat cenderung menganggap positif atas upaya perusahaan tersebut dalam memperluas jaringan pasarnya. Mereka\u00a0 justru cenderung merasa senang atas hadirnya Dunkin\u2019Donuts di Indonesia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>PENGARUH KEHADIRAN DUNKIN\u2019 DONUTS DI INDONESIA<\/strong><\/p>\n<p>Hadirnya suatu Perusahaan Multinasional baru, tentunya membawa pengaruh bagi negara penerima perusahaan tersebut. Demikian pula kehadiran Dunkin\u2019Donuts sendiri yang juga membawa pengaruh bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Secara sosial, pengaruh yang dibawa oleh perusahaan Dunkin\u2019Donuts tidak membawa dampak yang signifikan bagi pola kehidupan masyarakat. Ada yang berpendapat bahwa kehadiran MNC dapat\u00a0mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih konsumtif. Masyarakat dinilai akan saling berlomba-lomba dalam menggunakan (mengonsumsi) produk dari Perusahaan Multinasional tersebut untuk menunjukkan strata sosial mereka dalam kehidupan bermasyarakat.<\/p>\n<p>Secara ekonomi, kehadiran dan keberadaan Dunkin\u2019Donuts tidak sampai mengancam eksistensi (keberadaan) usaha-usaha donut lokal yang ada. Buktinya saja sampai saat ini kita masih menjumpai penjual-penjual yang menjajakan donut buatan industri rumah tangga ataupun industri kecil. Baik di pasar-pasar tradisional, sekolah-sekolah maupun kantor, warung, serta pedagang-pedagang keliling. Kehadiran Dunkin\u2019Donuts dianggap sebagai salah satu varian dari jenis-jenis donut yang ada. Selain itu, adanya segmentasi pasar tersendiri dari Dunkin\u2019 Donut, membuat eksistensi usaha-usaha donut lokal yang ada tetap terjaga.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>DAMPAK KEHADIRAN DUNKIN\u2019 DONUTS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN USAHA LOKAL<\/strong><\/p>\n<p>Perusahaan Multinasional Dunkin\u2019Donuts terbukti tidak sampai mengancam eksistensi (keberadaan) perusahaan lokal yang ada. Pedagang-pedagang tradisional banyak yang menjajakan donut-donut dari usaha industri kecil ataupun usaha rumah tangga. Bahkan saat ini pun industri rumahan tersebut banyak yang mengadaptasi adonan kue donat yang lebih lembut. Adanya segmentasi pasar juga menjamin keberlangsungan perusahaan donut-donut lokal. Sehingga kehadiran Dunkin\u2019Donuts tidak terlalu mengancam usaha-usaha tersebut.<\/p>\n<p>Di samping itu, saat ini pun sudah mulai banyak perusahaan-perusahaan donut lokal yang mampu menghasilkan produk-produk donut berkualitas. Bahkan sebagian dari mereka sudah mempunyai nama ataupun membuka gerai berkonsep resto donut dan kopi seperti halnya Dunkin\u2019Donuts. Sebut saja donut I-Crave, Java Donut, J.CO, Donut Oishii, Mister Donut, dan lain sebagainya. Donut-donut lokal ini juga tidak kalah digemarinya oleh para penikmat donut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>OPINI<\/strong><\/p>\n<p>Menurut saya kehadiran Perusahaan Multinasional Dunkin\u2019Donuts di Indonesia telah memancing timbulnya persaingan dari perusahaan lokal yang sejenis. Terbukti saat ini mulai banyak bermunculan perusahaan donut lokal yang menghasilkan donut-donut berkualitas sampai dengan yang berbentuk resto donut dan kopi. Sebut saja donut I-Crave, Java Donut, Donut Kampoeng Utami (Dku. Donuts Indonesia), Ring Master, sampai donut J.CO yang semakin digemari para penikmat donut. Dunkin\u2019 Donuts yang merupakan restoran donut dan kopi dengan jaringan terbesar di dunia saat ini terbukti mampu merangsang pertumbuhan perusahaan donut lokal yang ada.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu Perusahaan Multinasional yang bergerak di bidang kafe ataupun gerai-gerai pangan adalah\u00a0Dunkin\u2019 Donuts,\u00a0atau yang lebih akrab disingkat dengan sebutan DD. Dunkin\u2019 Donuts sendiri mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1985, dengan gerai pertamanya di Jl. Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Sebenarnya, Dunkin\u2019 Donuts bukan merupakan perusahaan donut multinasional pertama yang masuk ke Indonesia.\u00a0 Di tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":69,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,1],"tags":[],"class_list":["post-80","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=80"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/80\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/media\/69"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=80"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=80"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=80"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}