{"id":197,"date":"2017-08-10T13:38:17","date_gmt":"2017-08-10T06:38:17","guid":{"rendered":"http:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/?p=197"},"modified":"2017-08-10T13:38:17","modified_gmt":"2017-08-10T06:38:17","slug":"pengertian-scor-model","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/2017\/08\/pengertian-scor-model\/","title":{"rendered":"Pengertian SCOR Model"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-family: 'Open Sans Bold', Helvetica, Arial, sans-serif\">Oleh<b> :\u00a0<\/b><\/span>Meiryta Yuliani &amp; Haryadi Sarjono<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Model <em>SCOR <\/em>(<em>Supply Chain Operations Reference<\/em>) disahkan oleh <em>SCC<\/em> (<em>Supply Chain Council<\/em>). <em>SCC<\/em>, terbentuk pada tahun 1996, yang merupakan asosiasi non-profit internasional dan independen dengan keanggotaan yang terbuka bagi semua perusahaan atau organisasi . Asosiasi ini berfokus pada riset, aplikasi serta upaya memajukan kecanggihan sistem dan praktik manajemen rantai suplai <em>(Supply Chain Management). <\/em>Dengan menggunakan metode diagnostik dan alat tolok ukur (<em>benchmarking<\/em>) miliknya, <em>SCC<\/em> membantu perusahaan-perusahaan melakukan perbaikan nyata pada proses rantai suplai mereka. Cabang <em>SCC<\/em> tersebar di seluruh Amerika Utara, Eropa, Jepang, Afrika Selatan, Amerika Latin, Australia\/ Selandia Baru, Asia Tenggara dan Cina Darata,, dengan dua cabang yang sedang berkembang yaitu India dan Timur Tengah. (Paul, 2014: xi)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Model <em>SCOR<\/em> diciptakan oleh<em> SCC<\/em> dalam rangka menyediakan suatu metode penelitian mandiri dan perbandingan aktivitas-aktivitas dan kinerja rantai suplai sebagai suatu standar manajemen rantai suplai lintas-industri. Model ini menyajikan kerangka proses bisnis, indikator kinerja, praktik-praktik terbaik (<em>best practice<\/em>) serta teknologi yang unik untuk mendukung komunikasi dan kolaborasi antarmitra rantai suplai, sehingga dapat meningkatkan efektivitas manajemen rantai suplai dan efektivitas penyempurnaan rantai suplai. (Paul, 2014 : xi)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">(Paul, 2014, p.xii) Menyatakan bahwa Model <em>Supply Chain Operations Reference<\/em> <em>(SCOR)<\/em> adalah sebuah bahasa rantai suplai, yang dapat digunakan dalam berbagai konteks untuk merancang, mendeskripsikan, mengonfigurasi dan mengonfigurasi ulang berbagai jenis aktivitas komersial bisnis. Penerapan model <em>Supply Chain Operations Reference <\/em>(SCOR) dalam batas-batas tertentu cukup fleksibel dan dapat disesuaikan untuk meningkatkan produktivitas demi memenuhi kebutuhan konsumen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam jurnal <em>Benchmarking Agri-food Supply Chain Networks: A Conceptual Framework <\/em>(Moazzam, Garnevska, &amp; Marr, 2012) <em>Supply Chain Council (SCC)<\/em> dari USA memperkenalkan <em>Supply Chain<\/em> pertama Operasi Referensi <em>(SCOR)<\/em> pada tahun 1997 (Stewart, 1997). Model ini disusun sekitar lima proses: <em>Plan, Source, Make, Deliver<\/em>, dan <em>Return<\/em> dan empat tingkat rincian proses (<em>Supply Chain Council<\/em>, 2012). Stewart (1997) melihat Model <em>SCOR<\/em> sebagai model referensi industri pertama yang merekomendasikan untuk perbaikan operasional dalam suatu organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>SCOR <\/em>merupakan model referensi proses yang menggabungkan konsep-konsep dalam rekayasa ulang proses bisnis, <em>benchmarking<\/em>, dan pengukuran proses. Dalam pencapaian tujuan rantai suplai akan dilakukan analisa melalui indikator dalam atribut kinerja yaitu <em>reliability<\/em>,<em>responsiveness<\/em>, <em>supply chain costs<\/em>, dan <em>asset management<\/em>. (Hidayat &amp; Astrellita, <em>Using Supply Chain Operation Reference Model and Failure Mode Effect Analysis to Measure Delivery Performance of a Distribution System (Case Study <\/em>: Lotte Mart Indonesia), 2012)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Daftar Pustaka<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Georgise, F. B., Thoben, K. D., &amp; Seifert, M. (2013). Implementing the SCOR Model Best Practices for Supply Chain Improvement in Developing Countries. <em>International Journal of Service, Science and Technology vol 6, no. 4<\/em>, 1.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hidayat, S., &amp; Astrellita, S. A. (2012). Using Supply Chain Operation Reference Model and Failure Mode Effect Analysis to Measure Delivery Performance of a Distribution System (Case Study : Lotte Mart Indonesia). <em>Jurnal Al-azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi, <\/em>Vol. 1, No. 4.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Moazzam, M., Garnevska, E., &amp; Marr, N. E. (2012). Benchmarking Agri-food Supply Chain Networks: A Conceptual Framework. <em>Benchmarking Agri-food Supply Chain Networks: A Conceptual Framework<\/em>, 1.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Paul , J. (2014). Transformasi Rantai Suplai dengan model SCOR. In J. Paul, <em>Transformasi Rantai Suplai dengan Model SCOR.<\/em> Jakarta: PPM. Manajemen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pratiwi, A., &amp; Sarjono, H. (2014). Proposed Improvement of Performance Calculation of Supply Chain Management. <em>Applied Mathematical Sciences<\/em>, Vol. 8.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Salazar, F., Caro, M., &amp; Cavazos, J. (2012). Final Review of the Application of the SCOR Model for Biodiesel Castor-Colombia Case. <em>Final Review of the Application of the SCOR Model for Biodiesel Castor-Colombia Case<\/em>, 1.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh :\u00a0Meiryta Yuliani &amp; Haryadi Sarjono Model SCOR (Supply Chain Operations Reference) disahkan oleh SCC (Supply Chain Council). SCC, terbentuk pada tahun 1996, yang merupakan asosiasi non-profit internasional dan independen dengan keanggotaan yang terbuka bagi semua perusahaan atau organisasi . Asosiasi ini berfokus pada riset, aplikasi serta upaya memajukan kecanggihan sistem dan praktik manajemen rantai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[7,8,20,21],"class_list":["post-197","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article","tag-bbs","tag-management","tag-scor","tag-supply-chain"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=197"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":198,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197\/revisions\/198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=197"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=197"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/management\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=197"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}