{"id":3796,"date":"2026-06-08T10:38:48","date_gmt":"2026-06-08T03:38:48","guid":{"rendered":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/?p=3796"},"modified":"2026-06-08T10:38:48","modified_gmt":"2026-06-08T03:38:48","slug":"matcha-shortage-in-japan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/2026\/06\/matcha-shortage-in-japan\/","title":{"rendered":"Matcha Shortage in Japan"},"content":{"rendered":"<p>Selama beberapa tahun terakhir, minuman matcha menjadi salah satu yang paling dicari dan diminati di berbagai belahan dunia. Bubuk teh hijau khas Jepang ini dulu hanya digunakan dalam upacara minum teh tradisional, namun kini hadir dalam berbagai produk modern seperti matcha latte, makanan manis, hingga perawatan kulit. Popularitasnya terus naik karena media sosial seperti TikTok dan Instagram, yang membuat matcha menjadi tren gaya hidup di seluruh dunia. Namun, di balik popularitasnya, Jepang kini sedang mengalami kelangkaan matcha.<\/p>\n<p>Permintaan dari seluruh dunia menyebabkan kelangkaan bahan ini, sehingga banyak kafe di Amerika, Eropa, hingga Asia mulai menjadikan matcha sebagai menu favorit mereka. Selain dianggap sehat karena mengandung banyak antioksidan, warna hijau yang terang pada matcha juga membuat generasi muda tertarik di media sosial. Hasilnya, permintaan terhadap matcha naik dengan sangat cepat, sedangkan kemampuan para petani teh di Jepang untuk memproduksinya masih terbatas.[2][4]<\/p>\n<p>Masalah semakin sulit karena membuat matcha berkualitas tinggi memerlukan langkah-langkah yang banyak dan rumit. Daun teh khusus yang disebut tencha ditanam dengan cara tertentu, salah satunya adalah dilindungi dari sinar matahari sehingga bisa menghasilkan rasa umami yang khas. Setelah dipanen, daun tersebut dihaluskan perlahan hingga menjadi bubuk yang halus. Proses ini memerlukan waktu, tenaga, dan keahlian khusus, sehingga produksi tidak bisa ditingkatkan secara cepat.<\/p>\n<p>Selain karena permintaan yang tinggi, kondisi cuaca juga membuat situasi semakin memburuk. Jepang sedang mengalami cuaca sangat panas dan perubahan iklim yang mengganggu produksi hasil panen teh. Beberapa daerah penghasil matcha seperti Kyoto dan Uji mengalami penurunan jumlah produksi karena adanya suhu yang terlalu ekstrem dan cuaca yang sering berubah-ubah. Reuters mengatakan bahwa cuaca yang terlalu panas menyebabkan kesulitan bagi produksi matcha Jepang dalam memenuhi permintaan global yang terus bertambah.[1][3]<\/p>\n<p>Dampaknya mulai terasa di berbagai negara. Harga matcha naik cukup banyak dan beberapa produsen terkenal di Jepang bahkan membatasi penjualan produk mereka. Persediaan matcha premium semakin sulit ditemukan, terutama yang memiliki kualitas ceremonial grade yang biasa digunakan dalam upacara teh tradisional. Banyak konsumen juga mulai merasa cemas karena khawatir ada produk matcha palsu atau kualitasnya buruk yang muncul di pasar internasional.[3]<\/p>\n<p>Krisis ini juga membawa munculnya persaingan dari negara lain, khususnya Tiongkok. Beberapa produsen dari Tiongkok mulai memperbaiki kualitas matcha mereka agar bisa memenuhi permintaan pasar internasional. Meskipun Jepang masih dianggap sebagai penghasil matcha terbaik di dunia, produk dari negara lain mulai menjadi pilihan karena harganya lebih terjangkau dan jumlah produksinya lebih banyak.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-3797 aligncenter\" src=\"http:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2026\/06\/Screenshot-2026-06-08-103510.png\" alt=\"\" width=\"407\" height=\"511\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Source: Marukyu Koyamaen (2025)<\/p>\n<p>Di sisi lain, banyak pihak melihat kondisi ini sebagai peringatan penting bagi industri teh di Jepang. Peternak teh tradisional semakin sedikit karena usia mereka terus bertambah dan jumlah generasi muda yang ingin mengambil alih pekerjaan tersebut sangat sedikit. Jika tidak ada inovasi dan bantuan dari pemerintah, Jepang mungkin akan kesulitan untuk tetap menjadi pusat utama produksi matcha di dunia.[2][3]<\/p>\n<p>Meskipun begitu, kemungkinan popularitas matcha akan terus naik di masa depan. Tren gaya hidup sehat dan kebiasaan minum matcha yang modern terus trending, sehingga permintaan di pasar global masih terus naik tanpa menunjukkan tanda-tanda berkurang. Tantangan terbesar sekarang adalah bagaimana tetap menjaga keseimbangan antara tradisi, kualitas, dan kebutuhan pasar global yang terus berkembang.[1][4]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.washingtonpost.com\/business\/2025\/07\/30\/matcha-shortage-global-price-japan\">https:\/\/www.washingtonpost.com\/business\/2025\/07\/30\/matcha-shortage-global-price-japan<\/a> [1]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/food\/2025\/apr\/05\/skyrocketing-demand-for-matcha-raises-fears-of-shortage-in-japan\">https:\/\/www.theguardian.com\/food\/2025\/apr\/05\/skyrocketing-demand-for-matcha-raises-fears-of-shortage-in-japan<\/a> [2]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.japantimes.co.jp\/life\/2025\/02\/23\/food-drink\/matcha-shortage-global-solutions\">https:\/\/www.japantimes.co.jp\/life\/2025\/02\/23\/food-drink\/matcha-shortage-global-solutions<\/a> [3]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/time.com\/7305699\/we-are-drinking-so-much-matcha-that-supplies-are-running-out\">https:\/\/time.com\/7305699\/we-are-drinking-so-much-matcha-that-supplies-are-running-out<\/a> [4]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selama beberapa tahun terakhir, minuman matcha menjadi salah satu yang paling dicari dan diminati di berbagai belahan dunia. Bubuk teh hijau khas Jepang ini dulu hanya digunakan dalam upacara minum teh tradisional, namun kini hadir dalam berbagai produk modern seperti matcha latte, makanan manis, hingga perawatan kulit. Popularitasnya terus naik karena media sosial seperti TikTok [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":3797,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3796","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3796","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3796"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3796\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3798,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3796\/revisions\/3798"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3797"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3796"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3796"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/ibm\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3796"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}