Instagram “likes” disabled? What would happen and how it will disrupt influencer marketing

Oleh: Natalia, SE, MM (Faculty Member of International Marketing)

 

Instagram secara resmi sedang melakukan tes menghilangkan jumlah likes pada foto dan video views pada feed. Tes prototype tersebut telah dilakukan kepada sejumlah responden di Canada. Isu yang muncul saat ini adalah bagaimana dampaknya kepada influencer marketing. Bagi influencer, tombol likes menjadi tolak ukur apakah content yang dihasilkan menarik atau diminati para audience-nya. Tampa pengukuran yang jelas Brand pun mempertanyakan apakah influencer telah memberikan kontribusi yang cukup terhadap upaya pemasaran yang dilakukan. Sehingga kebijakan tersebut menuai pro dan kontra terutama kepada Brand dan Content Creator.

Putting focus on content quality

Banyak pengamat meyakini bahwa langkah Instagram untuk menghilangkan tombol likes bukanlah persoalan besar, malahan langkah tersebut seharusnya memberikan kabar baik kepada influencer karena para influencer tidak lagi berlomba-lomba untuk mencari jumlah likes dan dapat fokus pada kualitas konten. Influencer akan didorong untuk membuat konten yang lebih kreatif dan menggunakan tipe konten yang lain seperti video atau stories. Terkadang influencer fokus mem-posting foto yang dianggap dapat meraih jumlah likes yang banyak namun seringkali foto tersebut tidak relevan atau tidak merepresentasikan Brand yang di endorse. Oleh karena itu, langkah ini akan mendorong influencer untuk membuat konten yang benar-benar berkualitas.

Kills Fake Followers and Increase Engagement

Kabar baik lainnya adalah langkah tersebut akan mengurangi jumlah followers yang palsu. Akun-akun palsu yang dipergunakan untuk menambah jumlah likes akan jauh berkurang, sehingga Brand dapat memastikan bahwa content yang dibuat nantinya akan benar-benar fokus kepada bagaimana membuat caption yang menarik dan meningkatkan engagement pada kolom komentar.

Increasing Role of Influencer Marketing Agency

Selama ini ketika Brand memutuskan ingin menggunakan influencer marketing dalam marketing campaign, pertanyaannya adalah apakah lebih efektif menjangkau influencer secara pribadi atau melalui Influencer Marketing Agency? Di permukaan terlihat bahwa menjangkau influencer secara pribadi lebih masuk akal dengan anggapan biaya lebih rendah dan jangkauan mudah. Namun dengan banyaknya influencer di Indonesia saat ini, masing-masing influencer memiliki fokus pada topik atau minat tertentu. Sehingga untuk memastikan bahwa influencer marketing dilakukan secara efektif, Brand harus mencari informasi lengkap mengenai aspek pemasaran, fokus, dan minat dari influencer tersebut dari berbagai sumber.

Apalagi dengan fenomena bahwa tombol likes pada Instagram akan dihilangkan menjadikan peran dari Influencer Marketing Agency semakin besar, karena Brand harus menemukan cara baru mengukur keberhasilan influencer. Influencer Marketing Agency dapat menjadi jawaban karena agensi telah berafiliasi dengan banyak influencer sehingga memiliki data historis influencer yang memiliki engagement yang tinggi, atau memiliki akses yang luas atau influencer yang menciptakan konten-konten yang hebat. Oleh karena itu agensi dapat mengidentifikasi influencer yang tepat untuk marketing campaign sebuah Brand, sekaligus membantu negosiasi harga dan mengukur hasil.

New tools to measure content effectiveness

Para pengamat percaya bahwa langkah Instagram ini juga akan mendorong Influencer Marketing Agency untuk memiliki software analytics. Jika Brand membutuhkan informasi untuk mengevaluasi efektifitas influencer, mereka dapat meminta influencer untuk memberikan engagement insights dari akun influencer. Hal ini dapat dilakukan pada skala kecil, namun untuk skala besar, Brand akan memiliki ketergantungan yang besar kepada agensi yang telah memiliki software analytics.

The rise of micro-influencers

Langkah Instagram juga akan membuat Brand semakin melirik micro-influencer. Dikutip dari clickz.com, menurut studi dari Expercity, 82% konsumen memiliki peluang lebih tinggi mendengarkan rekomendasi dari micro-influencer. Micro-influencer adalah orang-orang yang memiliki 5000 – 50.000 followers di akun sosial media. Audiens dari micro-influencer terlihat kecil karena topik dan interest yang spesifik, namun memiliki engagement yang tinggi.

Source: https://starngage.com/influencer-marketing-indonesia/

Langkah Instagram menghilangkan tombol likes dipercaya akan memberikan angin segar bagi komunitas influencer. Langkah tersebut akan dipercaya akan membentuk sebuah lingkungan yang lebih fokus untuk menciptakan konten-konten yang hebat dan disisi lain influencer dipercaya dapat lebih terlibat lagi dengan followers dibandingkan hanya mengejar jumlah “likes” seperti yang dilakukan saat ini. We will expect to see new form of influencer marketing in the future.

Source:

https://techcrunch.com/2019/04/30/instagram-hidden-like-counter/

https://marketingland.com/what-will-happen-to-influencer-marketing-if-instagram-likes-go-away-261801

https://starngage.com/influencer-marketing-indonesia/

https://www.clickz.com/the-rise-of-micro-influencers-and-how-brands-use-them/216503/

http://go2.experticity.com