{"id":1923,"date":"2026-11-01T08:00:58","date_gmt":"2026-11-01T01:00:58","guid":{"rendered":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/?p=1923"},"modified":"2026-10-15T10:45:54","modified_gmt":"2026-10-15T03:45:54","slug":"bukan-sekadar-kirim-barang-saatnya-rantai-pasok-yang-lebih-ramah-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/2026\/11\/bukan-sekadar-kirim-barang-saatnya-rantai-pasok-yang-lebih-ramah-lingkungan\/","title":{"rendered":"Bukan Sekadar Kirim Barang: Saatnya Rantai Pasok yang Lebih Ramah Lingkungan\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-1924\" src=\"http:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/17\/2026\/10\/Thumbnail-Artikel.jpeg\" alt=\"\" width=\"1600\" height=\"899\" srcset=\"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/17\/2026\/10\/Thumbnail-Artikel.jpeg 1600w, https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/17\/2026\/10\/Thumbnail-Artikel-300x169.jpeg 300w, https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/17\/2026\/10\/Thumbnail-Artikel-1200x674.jpeg 1200w, https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/17\/2026\/10\/Thumbnail-Artikel-768x432.jpeg 768w, https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/17\/2026\/10\/Thumbnail-Artikel-1536x863.jpeg 1536w, https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/17\/2026\/10\/Thumbnail-Artikel-480x270.jpeg 480w, https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/17\/2026\/10\/Thumbnail-Artikel-1024x575.jpeg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pernah kepikiran berapa banyak emisi karbon yang dihasilkan sebelum sebuah produk sampai ke tangan kita? Mulai dari pengambilan bahan baku, proses produksi di pabrik, hingga pengiriman ke rumah, semuanya punya jejak lingkungan. Karena itu, menjaga lingkungan bukan cuma soal mengurangi sampah atau membawa tumbler, tetapi juga bagaimana barang diproduksi dan didistribusikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di sinilah konsep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">decarbonization<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">circular supply chain<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> berperan dalam menciptakan rantai pasok yang lebih ramah lingkungan.<\/span> <i><span style=\"font-weight: 400\">Decarbonization<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> atau dekarbonisasi adalah upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dari aktivitas bisnis. Contohnya, menggunakan energi terbarukan, meningkatkan efisiensi energi di pabrik, dan mengoptimalkan rute pengiriman agar konsumsi bahan bakar lebih rendah. Sementara itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">circular supply chain<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> mengajak perusahaan untuk melihat sumber daya sebagai sesuatu yang bisa digunakan kembali, bukan langsung dibuang setelah dipakai. Melalui penggunaan ulang material, daur ulang, dan pengurangan limbah, perusahaan dapat mengurangi kebutuhan bahan baku baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sederhananya, dekarbonisasi berfokus pada pengurangan emisi, sedangkan rantai pasok sirkular membantu menjaga sumber daya tetap bernilai selama mungkin. Keduanya bisa berjalan beriringan untuk menciptakan proses bisnis yang lebih berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Mewujudkan rantai pasok ramah lingkungan tentu nggak cukup hanya dengan niat baik. Perusahaan perlu mengetahui dari mana bahan baku berasal, bagaimana produk dibuat, dan bagian mana yang menghasilkan emisi paling besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Salah satu caranya adalah melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">supply chain mapping<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, yaitu pemetaan seluruh proses rantai pasok dari pemasok hingga konsumen. Dengan pemetaan yang tepat, perusahaan bisa menemukan proses yang boros energi, sumber limbah, atau jalur distribusi yang perlu diperbaiki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Meski terdengar menjanjikan, penerapan rantai pasok hijau tetap memiliki tantangan. Perusahaan mungkin perlu mengeluarkan biaya awal untuk teknologi baru, mengubah proses produksi, atau mengumpulkan data dari berbagai pemasok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Menariknya, penelitian Mubarik et al. (2025) terhadap 156 perusahaan sektor elektronik dan kelistrikan di Malaysia menemukan bahwa pemetaan rantai pasok terbukti berperan penting dalam menghubungkan inovasi dengan upaya pengurangan emisi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada akhirnya, rantai pasok ramah lingkungan bukan sekadar tren, melainkan cara untuk membangun bisnis yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dengan mengurangi emisi, memanfaatkan kembali material, serta menggunakan teknologi secara tepat, perusahaan dapat mulai menekan dampak lingkungan dari aktivitasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Yuk kita ikut ambil bagian dalam menjaga bumi. Dukung praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan untuk masa depan kita bersama!<\/p>\n<p><\/span><span>M. S. Mubarik, A. Gunasekaran, S. A. Khan, and M. F. Mubarak, \u201cDecarbonization through supply chain innovation: Role of supply chain collaboration and mapping,\u201d <\/span><i><span>Journal of Cleaner Production<\/span><\/i><span>, vol. 507, p. 145492, May 2025, doi: 10.1016\/j.jclepro.2025.145492.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah kepikiran berapa banyak emisi karbon yang dihasilkan sebelum sebuah produk sampai ke tangan kita? Mulai dari pengambilan bahan baku, proses produksi di pabrik, hingga pengiriman ke rumah, semuanya punya jejak lingkungan. Karena itu, menjaga lingkungan bukan cuma soal mengurangi sampah atau membawa tumbler, tetapi juga bagaimana barang diproduksi dan didistribusikan. Di sinilah konsep decarbonization [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":33,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,2],"tags":[],"class_list":["post-1923","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/users\/33"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1923"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1923\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1925,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1923\/revisions\/1925"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}