{"id":1902,"date":"2026-07-15T21:22:46","date_gmt":"2026-07-15T14:22:46","guid":{"rendered":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/?p=1902"},"modified":"2026-07-24T21:33:28","modified_gmt":"2026-07-24T14:33:28","slug":"efisiensi-logistik-dan-green-leadership-sebagai-pilar-pembangunan-berkelanjutan-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/2026\/07\/efisiensi-logistik-dan-green-leadership-sebagai-pilar-pembangunan-berkelanjutan-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Efisiensi Logistik dan Green Leadership sebagai Pilar Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-1905\" src=\"http:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-content\/uploads\/sites\/17\/2026\/07\/ChatGPT-Image-Jul-24-2026-09_31_51-PM.png\" alt=\"\" width=\"1536\" height=\"1024\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Logistik memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran aktivitas ekonomi karena berkaitan langsung dengan proses distribusi barang dari produsen hingga ke tangan konsumen. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya logistik yang mencapai sekitar 22% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut tergolong tinggi dibandingkan dengan banyak negara di kawasan Asia, sehingga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi efisiensi rantai pasok nasional. Tingginya biaya logistik disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, belum meratanya kualitas infrastruktur, serta proses distribusi yang masih kurang efisien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Besarnya biaya logistik memberikan dampak langsung terhadap perekonomian. Salah satu dampak yang paling dirasakan adalah meningkatnya harga produk di tingkat konsumen karena biaya distribusi menjadi bagian dari harga jual barang. Selain itu, tingginya biaya logistik juga mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Produk dalam negeri menjadi lebih sulit bersaing dengan produk dari negara lain yang memiliki sistem logistik lebih efisien dan biaya distribusi yang lebih rendah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), juga merasakan dampak dari tingginya biaya logistik. Keterbatasan akses terhadap jaringan distribusi yang efisien membuat biaya operasional meningkat sehingga ruang untuk mengembangkan usaha menjadi lebih terbatas. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi keuntungan perusahaan, tetapi juga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi daerah yang bergantung pada kelancaran distribusi barang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Oleh karena itu, diperlukan upaya yang berkelanjutan untuk meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional. Pembangunan infrastruktur transportasi, integrasi moda angkutan, digitalisasi layanan logistik, serta penyederhanaan proses distribusi menjadi langkah strategis yang dapat menekan biaya logistik. Dengan sistem logistik yang lebih efisien, harga barang dapat menjadi lebih kompetitif, daya saing industri meningkat, dan pertumbuhan ekonomi nasional dapat berjalan lebih optimal.<\/p>\n<p>Referensi<\/p>\n<p>Santoso, S., Nurhidayat, R., Mahmud, G., &amp; Arijuddin, A. M. (2021). <em>Measuring the Total Logistics Costs at the Macro Level: A Study of Indonesia<\/em>. Logistics, 5(4), 68. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.3390\/logistics5040068\">https:\/\/doi.org\/10.3390\/logistics5040068<\/a>. (<a href=\"https:\/\/www.mdpi.com\/2305-6290\/5\/4\/68?utm_source=chatgpt.com\">MDPI<\/a>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Logistik memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran aktivitas ekonomi karena berkaitan langsung dengan proses distribusi barang dari produsen hingga ke tangan konsumen. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya logistik yang mencapai sekitar 22% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut tergolong tinggi dibandingkan dengan banyak negara di kawasan Asia, sehingga menjadi salah satu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":33,"featured_media":1905,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,2],"tags":[],"class_list":["post-1902","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1902","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/users\/33"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1902"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1902\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1907,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1902\/revisions\/1907"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1905"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1902"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1902"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/business-management\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1902"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}