{"id":107,"date":"2019-11-27T13:38:54","date_gmt":"2019-11-27T06:38:54","guid":{"rendered":"http:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/?p=107"},"modified":"2019-11-27T13:38:54","modified_gmt":"2019-11-27T06:38:54","slug":"bisnis-yang-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/2019\/11\/bisnis-yang-berkelanjutan\/","title":{"rendered":"BISNIS YANG BERKELANJUTAN"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Apabila kita memiliki sebuah bisnis, pastilah kita menginginkan agar bisnis kita bisa <em>sustainable<\/em> atau berkelanjutan. Namun, sebagian besar dunia ini didominasi oleh pemikiran jangka pendek, pandangan mengenai banyaknya masalah yang dihadapi manusia sekarang, serta membiarkan individu atau kelompok melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan konsekuensi dari perbuatannya di masa mendatang merupakan fakta yang menyedihkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kata \u2018berkelanjutan\u2019 memiliki kata \u2018hijau\u2019 yang melekat padanya. Kata berkelanjutan sendiri menggambarkan atau memberikan arti sebuah proses atau tindakan kelanjutan jangka panjang, menyebabkan atau membiarkan sesuatu berlanjut dalam jangka waktu tertentu, dan sebuah proses atau tindakan yang membuat sesuatu tetap berjalan atau membuat sesuatu tetap berjalan. Dari beberpa pengertian diatas dapat disimpulkan dalam konteks bisnis \u2018berkelanjutan\u2019 atau <em>sustainability<\/em> melibatkan proses dan tindakan yang menjaga perusahaan dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Secara garis besar, bagaimana sebuah perusahaan dapat berkelanjutan tidak hanya mengenai hijaunya lingkungan. Memang benar bahwa lingkungan tetap harus menjadi perhatian utama karena setiap bisnis dan kehidupan membutuhkan sumberdaya yang berasal dari lingkungan. Namun, keberlanjutan sebuah bisnis selain lingkungan juga mencakup bidang hukum, keuangan, ekonomi, industri, social, material dan perilaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Masing-masing dari aspek ini memiliki bahasa, kebiasaan dan kebudayaannya masing-masing sehingga berdiri dalam porsi lingkaran berbeda. Tetapi masih memiliki kesamaan, yaitu pembuangan limbah (<em>waste elimination<\/em>) dan perpanjangan sumber daya (<em>resource extension<\/em>) yang ada. Singkatnya, inti <em>sustainability<\/em> terdiri dari eliminasi limbah dan perluasan sumber daya. Dari sudut pandang bisnis, <em>sustainability<\/em> adalah tentang bagaimana mengurangi biaya sekarang maupun biaya yang mungkin timbul di masa mendatang, dalam bentuk apapun sehingga dapat memfasilitasi profitabilitas, daya saing, dan umur bisnis. Pada tahun 1994, konsultan bisnis Inggris John Elkington Mengkondensasi area ini menjadi tiga kategori dan menyebut mereka sebagai <em>&#8216;triple bottom line<\/em>&#8216; yaitu <em>People<\/em>, <em>Planet and<\/em> <em>Profit<\/em>. Singkat kata, ketiganya merupakan pilar yang mengukur nilai kesuksesan suatu perusahaan dengan tiga kriteria, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Untuk memahami <em>sustainability<\/em> lebih lanjut, kita semua harus terlebih dahulu memahami dasar-dasar dari keberhasilan itu sendiri. Model dasar dari keberlangsungan dikenal dengan sebutan 7-P. Model 7-P sendiri terdiri dari <em>preparation, preservation, processes, people, place, product,<\/em> dan <em>production<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Sumber : Scott, J. T. (2013). The Sustainable Business 2nd Edition. UK: Greenleaf Publishing Limited<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apabila kita memiliki sebuah bisnis, pastilah kita menginginkan agar bisnis kita bisa sustainable atau berkelanjutan. Namun, sebagian besar dunia ini didominasi oleh pemikiran jangka pendek, pandangan mengenai banyaknya masalah yang dihadapi manusia sekarang, serta membiarkan individu atau kelompok melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan konsekuensi dari perbuatannya di masa mendatang merupakan fakta yang menyedihkan. Kata \u2018berkelanjutan\u2019 memiliki [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-107","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":108,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107\/revisions\/108"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbs.binus.ac.id\/bbslab\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}