JICT

Jakarta International Container Terminal atau yang biasa disingkat JICT merupakan perusahaan pelayanan bongkar muat peti kemas dengan dua pelayanan utamanya adalah untuk penunjang kegiatan ekspor maupun impor.

PT JICT didirikan pada tahun 1999 yang berlokasi di Tanjung Priok. PT JICT merupakan salah satu dari 4 terminal pelayanan peti kemas ekspor-impor yang dimiliki oleh pelabuhan Tanjung Priok. Empat terminal tersebut antara lain Jakarta International Container Terminal (JICT), Terminal Petikemas Koja (TPK Koja), Mustika Alam Lestari (MAL), dan Multi Terminal Indonesia (MTI). PT JICT sendiri merupakan terminal peti kemas ekspor- impor terbesar di Indonesia (2017). Adanya penambahan dermaga dan juga lapangan penumpukan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok juga turut membuat JICT berkembang dengan sangat pesat. Hingga saat ini, lebih dari 25 negara telah menggunakan jasa layanan JICT yang terintegrasi oleh lebih dari 20 perusahaan.

Perkembangan lalu lintas ekspor-impor membuat PT JICT bersikeras untuk meningkatkan pelayanan serta mutu dari perusahaan mereka. JICT memiliki pengalaman yang cukup luas dalam menerapkan teknologi dengan model terbaru untuk mengembangkan usahanya. Melihat dari berkembangnya pelabuhan peti kemas negara maju, PT JICT melakukan kerjasama B to B dengan TPK Koja dalam mengembangkan fasilitas pendukung guna meningkatkan sistem logistik nasional dan mempercepat arus barang di pelabuhan sehingga dwelling time1 dapat ditekan.

1 Waktu yang dibutuhkan kontainer impor, mulai dari kontainer dibongkar dari kapal, sampai dengan kontainer keluar dari kawasan pelabuhan (gate out).

Salah satu bentuk kerjasama yang dilakukan oleh PT JICT dengan TPK Koja adalah dengan mengambangkan fasilitas Pintu Otomatis yang terintegrasi bernama JICT- Koja Joint Autogate. Di dalamAutogate ini juga diterapkan sistem Weight–In-Motion

bridge yang berfungsi sebagai alat penimbang muatan kontainer secara lebih akurat. Diharapkan dengan terintegrasinya sistem Autogate ini, arus barang kedua terminal dapat lebih optimal. Pasalnya, junlah truk pengangkut peti kemas yang melewati JICT dan TPK Koja dapat mencapai 12 ribu unit per hari. Maka dai itu, diperlukan peningkatan sistem maupun fasilitas penunjang guna mempercepat proses logistik barang di pelabuhan.

PT JICT yang memiliki total area seluas 100 Ha ini mampu melayani 35-40 kapal setiap minggunya. Dengan luas 100 Ha ini, JICT juga dapat menangani 1,8 juta TEUs yang mana angka ini terus meningkat hingga 2,4 juta TEUS2 (2017). Dengan sistem integrasi pelabuhan selama 24 jam, JICT mencetak sejarah pelabuhan prima yang menghasilkan 27-30 Mph (gerakan per jam) untuk dapat menangani 1 kapal. Kesuksesan JICT menangani 1 kapal ini dibuktikan saat kapal terbesar CMA CGM Otello, yang notabenenya milik perusahaan pelayaran Perancis berlabuh di pelabuhan peti kemas JICT.

Dengan adanya kunjungan kapal CMA CGM, menandakan terjalin kerja sama PT JICT dengan membuka layanan baru rute Pelabuhan Tanjung Priok ke West Coast (Los Angeles & Oakland) Amerika Serikat. Layanan dengan jadwal satu kali setiap minggu ini diharapkan dapat mengoptimalkan produktivitas eksportir dan importir di Indonesia (Gunta,2017).

EV-SC